Sedihnya Pedagang Sate Ini, Bayinya Urung Dirawat karena Tak Mampu Bayar Rp4 Juta Sehari di RSUD AA

976 views

Jefri menatap sedih bayinya yang prematur setelah urung dirawat .

PEKANBARU (LintasRiauNews) – Jefri (29) tersentak dan termangu tatkala pihak RSUD Arifin Achmad menyodorkan biaya perawatan bayinya yang lahir prematur. Bagaimana tidak, Biaya yang mesti ditanggung ternyata sedemikian besar, dan itu di luar dugaannya.

Pria muda ini tak kuasa menahan sedih, air matanya berlinang. Pasalnya, pihak rumah sakit mematok biaya Rp4 juta sehari. Dia jelas takkan bisa memenuhinya karena memang dil luar kemampuannya. Ia juga tak memiliki kartu jaminan kesehatan dari pemerintah.

Alhasil, sang bayi urung mendapat perawatan dari rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Riau itu dan Jeffri terpaksa membawanya kembali pulang ke daerahnya.
“Rp4 juta sehari, kemana saya mesti mendapatkan uang, saya hanyalah pedagang sate,” ujarnya lirih menahan kesedihan.

Meski begitu, kalimat yang menenangkan sang buah hati masih keluar dari mulutnya, “Sabar ya nak, Allah masih sayang sama kita. Ia adalah segala-galanya nak untuk kita,” ujar Jefri berkaca-kaca, seperti dilansir detakriaunews.com, Ahad (30/1).

Jefri akhirnya dengan lunglai menggendong bayi laki-lakinya yang lahir tak cukup umur atau prematur tersebut keluar dari rumah sakit plat merah itu. Ia akan kembali ke kampungnya di Kandis, Kabupaten Siak, sekalian untuk mengurus kartu kesehatan demi perawatan buah hatinya.

“Saya ingin sekali bayi saya dirawat. Tapi pakai apa kami nanti membayarnya. Sedangkan kami hanya pedagang sate. Harta yang dijual pun juga takkan mencukupi biaya rumah sakit,” keluhnya.

Jefri juga merasa galau karena untuk mengurus kartu jaminan kesehatan agar perawatan bayinya bisa ringan tidak pula mudah. Sebab, ia harus memiliki KTP, sedangkan miliknya masih KTP Jakarta. “Tentu perlu biaya bolak balik untuk mengurusnya,” ucapnya.

Awalnya bayi Jefri dirawat di Klinik Flamboyan Kandis, namun karena lahir prematur bayinya hanya bisa merinti.h Diduga, bayi mungilnya mengalami gangguan di pernafasan, dan Pihak klinik Flamboyan akhirnya merujuk ke RSUD Ariffin Ahmad.

Tapi apa hendak dikata, di rumah sakit milik pemerintah daerah itu, Jefri dihadapkan kenyataan pahit. Pihak rumah sakit menolak merawat bayi Jefri karena ia tak punya kartu jaminan kesehatan yang dikeluarkan pemerintah. Ia juga tak mampu membayar biaya perawatan dikenakan Rp4 juta sehari.

Jefri dan istrinya Rasih (26) hanya bisa meratapi nasibnya yang malang. Bayi mungilnya yang lahir lewat operasi caesar Sabtu (28/1) pagi kemarin belum sempat diberi nama, tetapi derita sudah mendera bayi laki-laki tersebut.

Bayi yang lahir dengan berat 2 kilogram tersebut dilahirkna saat kandungan ibunya baru berumur 8 bulan. Jika bayi normal menangis saat dilahirkan, maka bayi Jefri hanya bisa merintih.

Dokter Umum IGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad Pekanbaru dr Fitri mengatakan kemungkinan besar bayi tersebut mengalami gangguan di bagain saluran pernafasannya.”Seharusnya ia dirawat intensif,” ungkapnya

Atas cobaan yang menimpanya, Jefri sendiri juga tak mau cepat berputus asa. Dia tetap akan melakukan segala upaya dan berkeinginan kuat agar bayinya segera sembuh harus menemui jalan berliku.[] red007

Bagikan ke:

Posting Terkait