LintasRiauNews. com,PEKANBARU – Kemegahan panggung, ribuan pelajar mengenakan tanjak, rangkaian seni budaya hingga terciptanya rekor MURI menjadi wajah keberhasilan Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026 di Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau.
Namun, di balik suksesnya kegiatan tersebut, ternyata tersimpan cerita perjuangan yang tidak banyak diketahui publik.
Cerita itu disampaikan secara terbuka oleh Indra Gunawan, S.E., yang dalam kegiatan Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026 bertindak sebagai Konsolidator. Indra Gunawan saat ini juga menjabat sebagai Ketua Barisan Muda Laskar Melayu Bijuangsa Nusantara.
Di hadapan para tokoh Melayu, pejabat pemerintah, perwakilan lembaga adat, pelajar, panitia, dan ribuan peserta, Indra tidak hanya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan, tetapi juga mencurahkan isi hati mengenai perjuangan generasi muda dalam mewujudkan Kenduri Akbar Melayu Nusantara.
Dengan suara penuh emosi, Indra mengakui bahwa kegiatan sebesar Kenduri Akbar Melayu Nusantara tidak mudah diwujudkan, terlebih dengan berbagai keterbatasan yang dihadapi selama persiapan hingga pelaksanaan.
Ia bahkan secara terbuka menyampaikan bahwa setelah acara berlangsung masih terdapat sejumlah kewajiban yang harus diselesaikan.
“Jujur saya sampaikan, ini belum lunas. Pentas belum lunas, konsumsi juga belum,” ungkap Indra dalam sambutannya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu sisi menarik di balik kemeriahan Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026.
Bagi Indra, keterbatasan tersebut bukan alasan untuk menghentikan perjuangan. Justru, semangat generasi muda Melayu harus tetap menyala untuk membuktikan bahwa mereka mampu mengambil peran dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan Melayu.
Bukan Sekadar Acara, Tapi Menjaga Marwah Melayu
Indra mengatakan Kenduri Akbar Melayu Nusantara lahir dari semangat generasi muda yang ingin menghadirkan momentum besar untuk mempertemukan masyarakat Melayu Nusantara.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua Umum LAM Riau, Datuk Seri Haji Raja Marjohan Yusuf, yang dinilainya telah memberikan ruang kepada generasi muda untuk bergerak dan mengambil bagian dalam kegiatan kebudayaan.
Menurut Indra, dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan Kenduri Akbar Melayu Nusantara.
“Ini adalah momentum Melayu berkumpul. Ini momentum Melayu Nusantara berkumpul,” ujarnya.
Bagi Indra, keberhasilan kegiatan bukan semata-mata mengenai panggung, jumlah peserta, maupun rekor MURI.
Lebih dari itu, terdapat marwah Melayu yang harus dijaga oleh generasi muda.
“Ini anak-anak muda yang bekerja. Kami tidak ingin menjaga marwah Datuk Raja kami. Kalau sudah menyangkut marwah, jangankan tenaga, nyawa pun kita kasih,” tegasnya.
Dari Keterbatasan Menuju Rekor MURI
Perjuangan tersebut akhirnya berbuah pencapaian ketika ribuan pelajar mengikuti tancak massal yang kemudian dicatat MURI sebagai tancak oleh pelajar terbanyak di Indonesia.
Indra memberikan apresiasi kepada Dinas Pendidikan Riau, jajaran sekolah, kepala sekolah, guru, serta para pelajar yang ikut menyukseskan kegiatan.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu menggerakkan peserta.
Menurutnya, tanpa dukungan berbagai pihak, kegiatan dengan jumlah peserta yang begitu besar tidak akan mudah diwujudkan.
“Kami sudah bekerja keras dengan sekuat tenaga. Kami ingin mencatatkan sebuah sejarah di bumi Riau,” katanya.
Di Balik Panggung, Ada Perjuangan Panitia
Indra juga mengapresiasi seluruh panitia yang bekerja keras sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan.
Ia mengungkapkan bahwa di balik kemeriahan acara terdapat berbagai persoalan dan tekanan yang harus dihadapi bersama.
Sebagian panitia bahkan disebut sempat menangis karena khawatir kegiatan tidak dapat terlaksana sesuai rencana.
Namun, seluruh pihak tetap bertahan hingga Kenduri Akbar Melayu Nusantara akhirnya dapat berlangsung.
Indra secara khusus memberikan apresiasi kepada sejumlah pihak yang turut membantu pembiayaan kegiatan, termasuk Kak Lina dan Datuk Tim, yang menurutnya masing-masing memberikan bantuan Rp25 juta.
“Percayalah, Kak, kuatkan air mata. Perjuangan kita tidak akan sia-sia. Ini adalah momentum bangkit buat orang Melayu di Provinsi Riau,” ucapnya.
Konsolidasi Melayu Tidak Berhenti di Kenduri Akbar
Sebagai Konsolidator Kenduri Akbar Melayu Nusantara, Indra menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukanlah akhir dari gerakan yang dibangun generasi muda Melayu.
Menurutnya, terdapat agenda lanjutan, termasuk seminar internasional Melayu Nusantara yang membahas dinamika politik global.
Ia juga menyebut telah dilakukan konsolidasi dengan berbagai kelompok Melayu di sejumlah daerah.
Langkah tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat persatuan Melayu Nusantara sekaligus memberikan kontribusi konstruktif bagi bangsa dan negara.
“Pergerakan ini tidak hanya sampai di sini. Akan ada rekomendasi-rekomendasi pemikiran yang akan kita sampaikan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia,” ujarnya.
Bagi Indra Gunawan dan generasi muda yang terlibat, keberhasilan Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026 bukan hanya tentang 10.080 peserta atau rekor MURI.
Di baliknya ada perjuangan, keterbatasan, air mata, semangat gotong royong, dan keberanian generasi muda untuk mengambil peran.
Dari panggung Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026, pesan Indra pun menjadi gambaran semangat yang ingin dibangun:
Budaya Melayu tidak cukup hanya dibicarakan. Budaya harus diperjuangkan, dijaga marwahnya, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.**(ian)



