LintasRiauNews.com ,PEKANBARU – Bumi Lancang Kuning kembali menorehkan sejarah besar bagi kebudayaan Indonesia. Lautan tanjak yang dikenakan ribuan pelajar memenuhi halaman Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Riau, menghadirkan pemandangan megah yang tidak hanya memukau mata, tetapi juga mengguncang rasa bangga terhadap jati diri bangsa.
Barisan Muda Laskar Melayu Bijuangsa Nusantara bersama Laskar Rumpun Masyarakat Riau Bersatu sukses menggelar Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026 di LAM Provinsi Riau, Pekanbaru, Minggu–Senin (9–10 Agustus 2026), dengan mengusung tema “Dengan Semangat Melayu Nusantara Kita Bangun Indonesia yang Maju, Berdaya dan Bermaruah.”
Kegiatan ini dipenuhi berbagai rangkaian acara budaya, mulai dari seminar kebudayaan, bazar UMKM, pertunjukan seni, hingga puncaknya pemecahan rekor nasional melalui tancak massal.
Sebanyak 10.080 peserta, yang mayoritas merupakan pelajar dari Kota Pekanbaru, tercatat mengenakan tanjak secara serentak dan resmi memecahkan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai “Tancak oleh Pelajar Terbanyak di Indonesia.”
General Manager MURI Indonesia, Triono, menyampaikan bahwa setelah proses verifikasi dilakukan, MURI menetapkan kategori rekor khusus untuk pelajar karena mayoritas peserta merupakan siswa.
“Setelah kami konfirmasi datanya, ternyata pesertanya adalah mayoritas pelajar. Karena itu, MURI mengubah tajuk kegiatan menjadi tancak oleh pelajar terbanyak di Indonesia,” ujar Triono.
Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukan sekadar soal angka, melainkan sebuah inspirasi nasional dalam menjaga dan melestarikan khazanah budaya Nusantara.
Piagam rekor MURI kemudian diserahkan kepada Barisan Muda Laskar Melayu Pejuangsa Nusantara dan Laskar Rumpun Masyarakat Riau Bersatu sebagai penyelenggara kegiatan.
Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026 dihadiri sejumlah tokoh nasional, pejabat pusat dan daerah, unsur TNI-Polri, tokoh adat, serta pemimpin organisasi Melayu. Di antaranya Direktur Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan RI Sjamsul Hadi, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Riau Kristanto, Utusan Khusus Presiden RI sekaligus Ketua Umum PMRI Dr. H. Rusli Efendi, Dr. Farhat Abbas, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau Aryadi yang mewakili Plt Gubernur Riau, General Manager MURI Triono, jajaran TNI, Polri, serta tokoh-tokoh Melayu Riau. Daftar tamu undangan penting tersebut tercantum dalam dokumen kegiatan Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026.
Pemerintah Provinsi Riau memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan kegiatan ini.
Dalam sambutan mewakili Plt Gubernur Riau, Aryadi menegaskan bahwa Kenduri Akbar Melayu Nusantara bukan sekadar seremoni budaya, melainkan gerakan kolektif untuk memperkuat jati diri bangsa melalui nilai-nilai luhur Melayu.
Menurutnya, kemajuan bangsa tidak cukup dibangun dengan infrastruktur dan ekonomi semata, tetapi juga dengan karakter, identitas, dan kebanggaan terhadap budaya sendiri.
“Budaya tidak boleh berhenti menjadi cerita masa lalu, tetapi harus hadir sebagai inspirasi untuk melahirkan inovasi, memperkuat ekonomi kreatif, mengembangkan pariwisata, dan membentuk generasi muda yang percaya diri menghadapi persaingan global,” ujarnya.
Dari pemerintah pusat, Kementerian Kebudayaan RI menegaskan komitmennya mendukung pemajuan kebudayaan Melayu Riau.
Sjamsul Hadi menyampaikan pesan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang berhalangan hadir karena agenda internasional. Ia menyebut Riau memiliki posisi strategis sebagai pusat peradaban Melayu dan Kementerian siap memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga adat, komunitas budaya, dan generasi muda.
Suasana haru dan kebanggaan juga terasa ketika Utusan Khusus Presiden RI, Dr. H. Rusli Efendi, berdiri di hadapan lautan peserta bertanjak.
Ia menyebut pemandangan tersebut sebagai manifestasi hidup dari ikatan batin masyarakat Melayu terhadap adat dan budayanya.
“Ini bukan sekadar angka atau rekor seremonial semata, melainkan manifestasi hidup dari sebuah ikatan batin yang tidak lekang oleh zaman,” ungkapnya.
Dengan mengusung tagline “Raga di Rantau, Jiwa di Riau,” Rusli menegaskan bahwa sejauh apa pun anak Melayu merantau, kompas batinnya akan selalu kembali kepada tanah Melayu yang bersendikan syarak dan Kitabullah.
Ketua Umum LAM Riau, Datuk Seri Haji Raja Marjohan Yusuf, menilai Kenduri Akbar Melayu Nusantara sebagai momentum strategis yang bertepatan dengan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia, Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau, dan menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat ketahanan budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari ketahanan nasional, mencetak generasi muda yang cerdas dan berkarakter, serta menjaga kelestarian alam dan persatuan bangsa.
Menutup sambutannya, ia mengutip semangat yang menggema di seluruh arena kenduri: “Takkan Melayu hilang di dunia.”
Panglima Utama Tekankan Pembinaan Generasi Muda Melayu
Sementara itu, Panglima Utama Laskar Muda Melayu Bersatu Nusantara, Datuk Besar Muhammad Uzair, menegaskan pentingnya pembinaan generasi muda Melayu sebagai bagian dari upaya mempersiapkan masa depan bangsa.
Dalam sambutannya, Muhammad Uzair mengatakan bahwa keberadaan Barisan Muda Melayu Nusantara bukan sekadar organisasi, melainkan wadah untuk membina dan membentuk generasi baru Melayu agar memiliki mental yang kuat, berkarakter, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.
Menurutnya, generasi muda harus diberikan ruang untuk belajar, berkembang, dan mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan.
“Kami ingin generasi baru Melayu memiliki mental yang kuat untuk membangun masa depan bangsa Melayu ke depan,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa dalam perjalanan organisasi selalu ada dinamika dan perubahan. Namun, menurutnya, dinamika tersebut tidak boleh menghambat proses pembinaan generasi muda.
“Perubahan dalam organisasi itu memang selalu ada. Saya tidak menafikannya. Tetapi jangan sampai perubahan tersebut menghambat pembinaan generasi muda,” katanya.
Muhammad Uzair menegaskan bahwa generasi muda Melayu tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus diberikan kesempatan untuk berperan, belajar mengambil tanggung jawab, dan terlibat dalam pembangunan masyarakat.
Ia berharap Barisan Muda Melayu Nusantara dapat menjadi salah satu kekuatan yang mampu menggerakkan anak-anak muda untuk terus berkarya dan menjaga identitas Melayu di tengah perkembangan zaman.
“Momen seperti ini harus menjadi kesempatan untuk membangun kebersamaan dan memperkuat perjuangan kita,” ujarnya.
Menurutnya, pembinaan generasi muda merupakan investasi jangka panjang. Karena itu, seluruh elemen organisasi, lembaga adat, masyarakat, dan pemerintah harus memiliki komitmen yang sama untuk memberikan ruang dan kesempatan kepada generasi penerus.
Muhammad Uzair juga berharap pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, dapat memberikan perhatian dan dukungan terhadap gerakan kebudayaan serta pembinaan generasi muda Melayu Nusantara.
Ia menilai hubungan yang baik antara organisasi masyarakat, lembaga adat, generasi muda, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan akan menjadi modal penting dalam memperkuat kebudayaan Melayu.
Menutup sambutannya, Muhammad Uzair berharap Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026 tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum perjuangan kebudayaan Melayu yang berkelanjutan.
“Semoga acara ini menjadi motivasi bagi perjuangan Melayu Nusantara ke depan. Kita ingin kegiatan seperti ini terus berkembang dan memberikan manfaat bagi generasi muda serta masyarakat,” pungkasnya.
Di balik kemegahan acara, Ketua Konsolidasi sekaligus Ketua Barisan Muda Lembaga Melayu Bersatu Nusantara, Indra Gunawan, menyampaikan curahan hati yang menyentuh.
Ia mengakui kegiatan besar ini lahir dari semangat anak-anak muda Melayu dengan segala keterbatasan pembiayaan yang masih dihadapi panitia.
Namun, menurutnya, marwah Melayu dan nama baik generasi muda jauh lebih penting daripada segala kekurangan teknis.
“Kami ingin membuktikan bahwa anak-anak muda Melayu juga mampu membuat kegiatan besar,” tegasnya di hadapan ribuan peserta dan tamu undangan.
Keterlibatan para kepala sekolah, Dinas Pendidikan, dan ribuan pelajar menjadi salah satu kunci keberhasilan pemecahan rekor MURI.
Sementara itu, Ketua Panitia Tega Maulana Pitra menegaskan bahwa Kenduri Akbar Melayu Nusantara bukan hanya panggung hiburan, tetapi ruang silaturahmi, pelestarian budaya, dan penguatan persaudaraan rumpun Melayu Nusantara.
Ia berharap kegiatan ini terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan berkembang menjadi agenda budaya berskala nasional bahkan internasional.
Ketika senja mulai turun di halaman LAM Riau, ribuan tanjak masih tampak tegak di kepala para pelajar. Pemandangan itu seolah menjadi pesan kuat dari Riau kepada Indonesia: budaya tidak sedang dikenang, tetapi sedang dihidupkan kembali oleh generasi mudanya.
Dari Pekanbaru, marwah Melayu menggema lebih jauh dari sekadar pemecahan rekor. Ia menjelma menjadi seruan kebudayaan bahwa kemajuan bangsa harus berjalan seiring dengan akar tradisi, budi bahasa, dan jati diri yang tidak boleh hilang oleh zaman.**(ian)



