Kabut Asap di Riau, Dinkes Catat Sekitar 28 Ribu Kasus ISPA dan Siagakan Posko Kesehatan

2 views

LintasRiauNews.com,PEKANBARU — Dampak kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Riau menjadi perhatian Dinas Kesehatan Provinsi Riau. Berdasarkan laporan yang diterima dari kabupaten dan kota, tercatat sekitar 28 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, S.Kep., M.H, menyampaikan data tersebut saat diwawancarai Tim Media di ruang kerjanya, Jalan Cut Nyak Dhien, Pekanbaru, Rabu (14/10/2026).

Ia menjelaskan, angka tersebut merupakan data kumulatif yang dihimpun dari laporan pelayanan kesehatan di berbagai daerah. Namun, data tersebut masih perlu ditelaah lebih lanjut untuk memastikan karakteristik kasus, termasuk kemungkinan pasien yang mengalami keluhan berulang akibat riwayat penyakit sebelumnya.

“Kalau Dinas Kesehatan Provinsi tentu kami berbicara Riau, kabupaten dan kota. Kondisi Riau hari ini, dari laporan kabupaten/kota, tercatat lebih kurang 28 ribu yang terkena ISPA,” jelas Zulkifli.

Ia menambahkan, pencatatan kasus ISPA perlu dianalisis secara cermat karena tidak seluruh keluhan pernapasan dapat langsung dikaitkan dengan paparan kabut asap. Pemeriksaan dan penelusuran riwayat kesehatan pasien diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat.

Menurutnya, Kota Pekanbaru menjadi salah satu wilayah dengan jumlah laporan tertinggi. Berdasarkan perkiraan yang disampaikannya dalam wawancara, jumlah kasus di Pekanbaru mencapai sekitar 7.000.

Meski demikian, angka tersebut masih perlu dipastikan melalui data resmi berdasarkan periode pelaporan dan definisi kasus yang digunakan.

Lima Pos Pelayanan Kesehatan Disiagakan di Pekanbaru

Sebagai langkah penanganan dampak kabut asap, Dinas Kesehatan Provinsi Riau melakukan koordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota, rumah sakit, puskesmas, dan berbagai pihak terkait.

Khusus di Kota Pekanbaru, Dinkes Provinsi Riau menyebut telah menyiapkan lima pos pelayanan kesehatan di sejumlah titik strategis.

Pos tersebut berada di kawasan Cut Nyak Dhien, Rengat, sekitar jalan layang yang disebut dalam wawancara, kawasan SKA, dan Simpang Tiga.

Pada salah satu pos di Jalan Cut Nyak Dhien, disiagakan satu unit ambulans beserta seorang dokter, dua perawat, dan dukungan obat-obatan serta vitamin.

Zulkifli menjelaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya respons kesehatan untuk mengantisipasi dampak kabut asap terhadap masyarakat.

Selain lima pos tersebut, Dinkes Provinsi Riau juga menambah satu pos pelayanan di halaman kantor dinas dan menyediakan ruang layanan oksigen berkapasitas tiga tempat tidur di lantai satu gedung Dinas Kesehatan Provinsi Riau.

Fasilitas tersebut disiapkan sebagai langkah antisipasi apabila terdapat masyarakat yang membutuhkan pertolongan terkait gangguan kesehatan di tengah kondisi kabut asap.

Didukung Ratusan Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Zulkifli menyebutkan, Provinsi Riau memiliki jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersebar di kabupaten dan kota.

Berdasarkan data yang disampaikannya, terdapat 31 rumah sakit, 244 puskesmas, 118 puskesmas pembantu, serta 778 pos kesehatan desa (poskesdes). Selain itu, terdapat sekitar 1.301 apotek yang mendukung pelayanan kefarmasian di wilayah Riau.

Ia menjelaskan bahwa tenaga kesehatan di puskesmas juga memiliki pengalaman dalam penanganan krisis kesehatan. Tim yang disebut sebagai *Emergency Medical Team* (EMT) telah mendapatkan pelatihan untuk mendukung respons terhadap situasi darurat kesehatan.

Menurutnya, puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki peran penting karena berada lebih dekat dengan masyarakat.

Dinas Kesehatan Provinsi Riau juga terus mendorong koordinasi lintas sektor agar masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.

Dinkes Klaim Perkembangan Tidak Signifikan, Data Tetap Perlu Ditelaah

Saat ditanya mengenai perkembangan kasus ISPA dibandingkan periode sebelumnya, Zulkifli menyatakan belum melihat peningkatan yang signifikan berdasarkan gambaran data yang disampaikannya.

Ia menjelaskan bahwa keluhan seperti batuk, pilek, asma, dan iritasi dapat memiliki penyebab yang beragam. Sebagian pasien juga mungkin memiliki riwayat penyakit yang berulang.

Karena itu, data kumulatif ISPA perlu dibaca dengan memperhatikan metode pencatatan, kemungkinan kunjungan berulang, serta periode waktu yang digunakan.

Zulkifli menyebutkan, pencatatan dampak kabut asap dalam periode yang dibahas telah berlangsung sejak 19 Agustus 2026. Dengan rentang pemantauan tersebut, ia menilai upaya pencegahan dan edukasi tetap harus dilanjutkan.

Dinas Kesehatan Provinsi Riau, lanjutnya, telah menyampaikan imbauan melalui media massa dan media sosial agar masyarakat mengurangi paparan asap, terutama kelompok rentan dan warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.

Distribusi Masker dan Bantuan ke Daerah Terdampak

Selain menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan, Dinkes Provinsi Riau juga melakukan distribusi masker dan dukungan kesehatan ke sejumlah daerah.

Zulkifli menjelaskan bahwa pada tahap awal, Kementerian Kesehatan melalui Pusat Krisis Kesehatan telah memberikan dukungan berupa 100 ribu masker untuk mengantisipasi kemungkinan dampak kabut asap.

Dukungan lainnya juga disebut berasal dari BPJS Kesehatan dan asosiasi kelapa sawit, termasuk masker N95 dan masker medis.

Bantuan tersebut kemudian didistribusikan ke sejumlah wilayah, di antaranya Indragiri Hilir, Kampar, Rokan Hilir, Dumai, dan Siak.

Dalam penanganan di Kabupaten Pelalawan, ia juga menyebutkan distribusi sekitar 28 ribu masker, disertai dukungan tambahan berupa makanan tambahan dan perlengkapan kesehatan di wilayah terdampak.

Menurutnya, penanganan dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah kabupaten, puskesmas, satuan tugas terkait, rumah sakit, dan unsur lainnya.

Namun, rincian jumlah bantuan, jenis barang, serta lokasi distribusi perlu dilihat berdasarkan dokumen penyaluran agar data yang disampaikan kepada publik dapat diverifikasi.

Masyarakat Diminta Mengurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Di tengah kondisi kabut asap, Zulkifli mengimbau masyarakat di 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau agar meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan kesehatan.

Masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya diminta meminimalkan aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Apabila harus keluar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang sesuai dan memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga asupan cairan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan yang mengkhawatirkan.

Dinas Kesehatan Provinsi Riau berharap masyarakat mengikuti informasi dan imbauan resmi dari pemerintah serta memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia.**(ian)

 

Upaya penanganan kabut asap, menurutnya, membutuhkan kerja sama pemerintah, tenaga kesehatan, media, dan masyarakat. Edukasi berkelanjutan serta respons kesehatan yang terkoordinasi diharapkan dapat membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap di Provinsi Riau.

 

 

Posting Terkait