LintasRiauNews.com,PEKANBARU – Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Negeri Kota Pekanbaru mulai mematangkan sejumlah program strategis untuk meningkatkan kualitas dan prestasi sekolah pada 2027. Salah satu langkah yang disiapkan adalah menghadirkan berbagai kompetisi antarsekolah, mulai dari liga basket, liga voli, hingga pembinaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan debat Bahasa Inggris.
Rencana tersebut disampaikan Ketua MKKS SMA Pekanbaru, Benny Rio Denaldy, S.Si., M.Si., kepada media LintasRiauNews.com usai rapat rutin MKKS yang berlangsung di aula SMAN 2 Pekanbaru, Senin (2/11/2026).
Benny menjelaskan, pertemuan tersebut merupakan agenda rutin MKKS yang kali ini menjadikan SMAN 2 Pekanbaru sebagai tuan rumah setelah sebelumnya dilaksanakan di SMAN 1 Pekanbaru.
Menurutnya, rapat tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi juga kesempatan untuk mengevaluasi program dan menyusun langkah bersama dalam mendorong sekolah negeri di Pekanbaru agar semakin berprestasi.
“Bagaimana kita merapatkan kembali dan memfokuskan arah untuk 2027, agar SMA Negeri menjadi sekolah yang penuh dengan prestasi,” ujarnya.
Muis Apresiasi Kepercayaan MKKS kepada SMAN 2 Pekanbaru
Kepala SMAN 2 Pekanbaru, Muis, S.Pd., M.Pd., menyampaikan terima kasih atas kepercayaan MKKS SMA Negeri Kota Pekanbaru yang telah menunjuk sekolahnya sebagai tuan rumah pelaksanaan rapat rutin tersebut.
Menurut Muis, kegiatan MKKS menjadi ruang penting bagi para kepala sekolah untuk bertukar gagasan, menyampaikan evaluasi, serta menyepakati program bersama demi kemajuan pendidikan di Kota Pekanbaru.
Ia menyatakan mendukung berbagai program yang telah dibahas dan disepakati dalam pertemuan tersebut, termasuk penyelenggaraan liga basket, liga voli, pembinaan OSN, serta kegiatan debat Bahasa Inggris.
Muis berharap program-program tersebut dapat menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan, menggali bakat, dan menunjukkan prestasi sesuai bidang masing-masing.
“Pada prinsipnya kami mendukung program MKKS ini. Berbagai kegiatan yang telah disepakati diharapkan dapat memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi dan meraih prestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik,” ungkap Muis.
Ia menambahkan, kompetisi antarsekolah bukan sekadar mengejar kemenangan, tetapi juga membangun mental bertanding, kedisiplinan, kerja sama, sportivitas, dan rasa percaya diri peserta didik.
Menurutnya, pembinaan yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan akan membantu sekolah menemukan serta mengembangkan potensi terbaik dari setiap siswa.
206 Siswa SMAN 2 Pekanbaru Lulus PTN, PTS dan Polri
Muis juga menyampaikan capaian peserta didik SMAN 2 Pekanbaru pada tahun 2026. Berdasarkan data yang disampaikan pihak sekolah, sebanyak 206 siswa dan siswi telah dinyatakan lulus atau diterima di perguruan tinggi negeri (PTN), perguruan tinggi swasta (PTS), serta jalur penerimaan Polri.
Capaian tersebut menjadi salah satu hasil yang ingin terus ditingkatkan melalui penguatan pembelajaran, pendampingan siswa, bimbingan karier, serta pengembangan potensi akademik dan nonakademik.
Muis berharap ke depan SMAN 2 Pekanbaru dapat terus meningkatkan prestasi dan mampu bersaing pada berbagai ajang, mulai dari tingkat daerah, nasional hingga internasional.
“Kami berharap SMAN 2 Pekanbaru dapat terus mencapai prestasi, baik akademik maupun nonakademik, di tingkat daerah, nasional, bahkan internasional. Tentu ini membutuhkan kerja sama seluruh warga sekolah, guru, peserta didik, orang tua, dan dukungan berbagai pihak,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberhasilan siswa bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, melainkan hasil kerja bersama antara pendidik, keluarga, dan lingkungan yang mendukung proses pendidikan.
Siapkan Liga Basket, Voli dan Pembinaan OSN
Salah satu terobosan yang dibahas MKKS adalah menyelenggarakan kegiatan kompetisi secara berkala di lingkungan SMA Negeri Kota Pekanbaru.
Program yang direncanakan meliputi liga basket antarsiswa SMA Negeri, liga voli, pembinaan OSN, serta kegiatan debat Bahasa Inggris.
Melalui kegiatan tersebut, MKKS ingin membangun tradisi kompetisi yang sehat sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan sesuai minat dan potensi masing-masing.
Benny menegaskan, tidak semua sekolah harus memaksakan diri mengejar prestasi pada bidang yang sama. Setiap satuan pendidikan perlu melihat potensi siswa, kemampuan sumber daya manusia, serta keunggulan yang dimiliki.
“Tidak mungkin semua sekolah menjadikan OSN sebagai target utama. Kita harus melihat sekolah mana yang memiliki potensi dan kantong pembinaan untuk OSN, olahraga, FLS3N, FIKSI, maupun OPSI,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan kompetisi tersebut nantinya tidak hanya terpusat di sekolah tertentu. MKKS akan menerapkan sistem tuan rumah bergiliran sehingga berbagai sekolah mendapat kesempatan menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan.
Misalnya, pertandingan liga voli dapat dilaksanakan di SMAN 2 Pekanbaru, sementara kegiatan berikutnya berlangsung di sekolah lain.
Dengan pola tersebut, kegiatan MKKS diharapkan tidak hanya menjadi pertemuan administratif, tetapi juga menghadirkan aktivitas nyata yang melibatkan siswa dan guru.
Evaluasi Rutin dan Semua Sekolah Harus Menjadi Favorit
Benny menyebutkan, MKKS akan terus melakukan koordinasi dan evaluasi secara rutin setiap bulan. Pertemuan tersebut menjadi wadah untuk membahas perkembangan pendidikan, mengevaluasi persoalan sekolah, serta merumuskan inovasi yang dapat diterapkan bersama.
Ia berharap tidak ada lagi anggapan bahwa hanya sekolah tertentu yang layak disebut sekolah favorit.
Menurutnya, setiap SMA Negeri memiliki kesempatan untuk berkembang dan menunjukkan keunggulannya apabila dikelola dengan baik.
“Saya ingin semua sekolah menjadi sekolah favorit. Jangan mengatakan hanya ada sekolah favorit tertentu. Semua sekolah harus menjadi sekolah favorit,” tegasnya.
Ia menilai keberhasilan sebuah sekolah tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah siswa berprestasi yang masuk, tetapi juga kemampuan manajemen sekolah dalam mengembangkan potensi peserta didik sesuai kemampuan dan karakteristik masing-masing.
TKA Harus Menjadi Evaluasi Proses Pembelajaran
Dalam pertemuan tersebut, MKKS juga membahas persiapan dan evaluasi pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026.
Benny menjelaskan, TKA perlu dipahami sebagai instrumen untuk melihat capaian kemampuan akademik siswa sekaligus membandingkan hasilnya dengan nilai rapor.
Menurutnya, hasil TKA dapat memberikan gambaran mengenai keberhasilan proses pembelajaran yang telah berlangsung di sekolah.
Ia juga menyebutkan bahwa nilai TKA dapat dimanfaatkan sebagai salah satu informasi pendukung dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri maupun sekolah kedinasan, sesuai ketentuan masing-masing jalur seleksi.
Karena itu, sosialisasi kepada orang tua menjadi hal penting agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai tujuan dan manfaat TKA.
“Kalau masih ada orang tua yang belum memahami TKA, berarti sosialisasi yang dilakukan sekolah belum sampai. Orang tua juga perlu mencari informasi agar memahami manfaat TKA bagi anak-anaknya,” ungkap Benny.
Ia menekankan bahwa sekolah harus mempersiapkan siswa sebelum pelaksanaan TKA, bukan hanya sibuk melakukan evaluasi setelah ujian selesai.
Benny turut mengungkapkan pengalaman di SMAN 8 Pekanbaru, tempat ia bertugas sebagai kepala sekolah. Persiapan TKA dilakukan sejak dini melalui latihan dan pembinaan, termasuk empat kali latihan secara mandiri dan satu kali latihan secara nasional.
Guru Bimbingan Konseling (BK) juga dilibatkan untuk berkomunikasi dengan orang tua siswa agar persiapan dapat berjalan bersama antara sekolah dan keluarga.
Dana BOS Harus Digunakan Bijak dan Tepat Sasaran
Untuk meningkatkan prestasi peserta didik, Benny mengakui dukungan anggaran menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Namun, ia menilai keterbatasan anggaran tidak seharusnya langsung menjadi alasan bagi sekolah untuk tidak mengembangkan potensi siswa.
Menurutnya, kepala sekolah dan jajaran pendidik harus mampu mengelola anggaran yang tersedia secara bijak, efisien, dan tepat sasaran, termasuk dalam pemanfaatan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
“Kita sebagai ASN tidak mungkin hanya mengatakan anggaran tidak cukup. Bagaimana memaksimalkan anggaran yang ada untuk menghasilkan siswa-siswa berprestasi. Dana BOS harus digunakan dengan bijak, efisien, dan tepat sasaran,” katanya.
Terkait keikutsertaan siswa dalam kompetisi di luar daerah, Benny menjelaskan bahwa sekolah perlu melihat skala prioritas dan karakter kegiatan.
Jika kompetisi merupakan kegiatan resmi yang dikurasi Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) atau diselenggarakan kementerian, terdapat mekanisme dukungan pembiayaan sesuai ketentuan penyelenggara.
Sementara untuk kompetisi mandiri yang membutuhkan biaya tambahan, sekolah perlu menyampaikan informasi secara terbuka kepada orang tua.
Dengan demikian, orang tua dapat memahami tujuan kegiatan, kebutuhan pembiayaan, dan manfaatnya bagi pengembangan kemampuan anak.
Pendidikan Bukan Hanya Tanggung Jawab Sekolah
Benny juga menyoroti pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendukung pendidikan anak.
Menurutnya, pembentukan karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab belajar tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Orang tua juga memiliki tanggung jawab melakukan pengawasan dan pendampingan ketika anak berada di rumah.
Ia menilai hubungan antara sekolah dan keluarga harus dibangun melalui komunikasi serta pembagian tanggung jawab yang seimbang.
“Kalau pendidikan hanya dilakukan di sekolah tanpa pengawasan di rumah, tentu hasilnya tidak akan maksimal. Pendidikan ini merupakan tanggung jawab bersama, antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pentingnya penerapan disiplin dan evaluasi terhadap kehadiran serta tanggung jawab siswa dalam proses pembelajaran.
Menurutnya, kebijakan mengenai kenaikan kelas perlu mempertimbangkan kehadiran, penyelesaian tugas, dan perkembangan belajar peserta didik. Prinsip penghargaan dan konsekuensi atau reward and punishment dinilai dapat menjadi salah satu cara mendorong siswa lebih bertanggung jawab terhadap pendidikannya.
Imbau Pendidik Tidak Menggunakan Vape
Di akhir penyampaiannya, Benny turut mengingatkan seluruh tenaga pendidik, khususnya yang masih menggunakan rokok elektrik atau vape, agar menghentikan kebiasaan tersebut.
Ia menilai pendidik harus mampu memberikan contoh perilaku yang baik kepada peserta didik, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Imbauan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keteladanan guru sebagai figur yang tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membentuk karakter generasi muda.
Benny berharap berbagai program yang dirancang MKKS dapat berjalan secara konsisten dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan mutu pendidikan SMA Negeri di Pekanbaru.
Dengan koordinasi rutin, pembinaan potensi siswa, pengelolaan anggaran yang tepat, serta keterlibatan orang tua, ia optimistis setiap sekolah memiliki peluang untuk berkembang dan melahirkan prestasi sesuai keunggulannya masing-masing.**(ian)



