Diapit Kebun Sawit dan Karet, SMAN 2 Rumbio Jaya Butuh Dukungan Pemerintah

86 views

 

KAMPAR  ,LintasRiauNews.com – Di tengah hamparan kebun sawit dan karet milik warga, berdiri sebuah sekolah negeri yang cukup jauh dari pemukiman. Itulah SMA Negeri 2 Rumbio Jaya, Kabupaten Kampar. Lokasinya berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah warga, sementara dari ibu kota Kabupaten Kampar, Bangkinang, butuh waktu sekitar 40 menit perjalanan.

Saat Tim Media memasuki area sekolah melalui pintu gerbang dengan gapura sederhana, terlihat hamparan kebun karet di sebelah kanan dan kebun kelapa sawit di sisi kiri. Di pintu masuk sekolah, tim media disambut petugas keamanan yang menanyakan identitas tamu, sebuah bentuk pelayanan sopan sesuai SOP.

Kedatangan tim media kemudian diterima langsung oleh Kepala SMAN 2 Rumbio Jaya, Yuliarni, M.Si, Senin (29/9/2025). Dalam keterangannya, ia menjelaskan kondisi sekolah yang berdiri sejak tahun 2016 dengan luas lahan sekitar 1,5 hektare.

Saat ini, sekolah memiliki delapan ruang belajar untuk 10 rombel, dengan total 240 siswa, 27 guru, serta 9 pegawai tata usaha. Selain itu, terdapat 13 guru komite yang sudah mengabdi sejak lama.

Dari 36 guru dan pegawai TU itu 13 orangnya merupakan honorer yang dibayakan dari dan BOSDA

Yuliarni sendiri baru menjabat sebagai kepala sekolah pada Januari 2024, menggantikan Kahairudin. Ia sebelumnya bertugas di SMAN 3 Siak Hulu, Kabupaten Kampar.

Foto,Toilet berada depan sekolah (sebelah kiri) dan Toilet berada di belakang sekolah (sebelah kanan)

Sejak awal kepemimpinannya, sejumlah perbaikan dilakukan, mulai dari menghadirkan pos keamanan sederhana untuk memberikan rasa aman, memperbaiki toilet yang sebelumnya tidak berfungsi, hingga memperbaiki plafon ruang guru yang sempat rusak.

Foto : Kantin sekolah

Namun, masih banyak tantangan yang dihadapi. Kondisi halaman sekolah yang berupa rawa kerap tergenang air saat hujan, sehingga tidak bisa digunakan untuk upacara atau olahraga. Upaya membuat kolam resapan sudah dilakukan, namun belum maksimal.

Permasalahan sampah juga menjadi kendala, sebab jarak sekolah dengan tempat pembuangan jauh, sementara sarana angkut tidak tersedia.

Foto :Tempat pembuangan sampah dibelakang sekolah

Meski begitu, pihak sekolah tetap berupaya mendukung program pemerintah Riau seperti Gerakan Riau Rindang Bermawah (Gurindam) dengan memanfaatkan lahan untuk menanam sayur, jagung, dan melakukan penghijauan bersama kepolisian setempat.

Di akhir keterangannya, Yuliarni menyampaikan harapannya kepada pemerintah agar membantu pembangunan fasilitas sekolah.

“Kami berharap ada bantuan untuk membuat lapangan dari paving block, memperbaiki toilet, membangun kantin yang layak, serta pagar sekolah bagian belakang.

Karena di sekitar sekolah masih banyak satwa liar seperti monyet dan ular berbisa yang membahayakan siswa,” ungkapnya.**(ian)

 

 

Posting Terkait