Jikalahari Launching Buku ’14 Tahun Melawan Monopoli Penguasa Hutan dan Lahan

766 views

PEKANBARU – Sempena ulang tahun yang ke-14, Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) menggelar lauching buku berjudul "14 Tahun Melawan Monopoli Penguasa Hutan dan Lahan". Kegiatan yang dihadiri sejumlah tokoh penting dan rektor peguruan tinggi ini digelar di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Jalan Diponegoro Pekanbaru.

Kordinator Jikalahari, Woro Supratinah, mengatakan launching buku digelar selama satu hari penuh, Jumat (26/02/2016), diisi dengan diskusi bertajuk "Bersama Rakyat Riau Menyelamatkan Hutan".

Buku ini merupakan hasil penelitian Jikalahari selama 14 tahun sebagai organisasi pemerhati lingkungan di Provinsi Riau. Sejumlah temuan, tantangan dan keberhasilan menjadi garda terdepan mengajak masyarakat untuk menyelamatkan hutan.

Dalam catatan Jikalahari, kasus asap merupakan tamu rutin terjadi di Provinsi Riau sepanjang 18 tahun belakangan ini. Datangnya asap telah memberikan dampak negatif yang besar bagi daerah. Ini terjadi karena kebakaran hutan dan lahan sepanjang tahun.

Kasus serupa yang terjadi tahun lalu saja, ada lebih dari 97.139 warga menjadi korban polusi kabut asap menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) 81.514 orang, pneumonia 1.305 orang, asma 3.744 orang, iritasi mata 4.677 orang, iritasi kulit 5.899 orang.

Sementara pada dampak sosial ekonomi, jalur transportasi udara terhenti selama hampir 2 bulan karena akses bandara ditutup. Hampir seluruh sekolah meliburkan pendidikan dan sebagian warga mengungsi.

Parahnya kerusakan hutan Riau juga telah menimbulkan bencana baru pada awal tahun ini. Ada beberapa kabupaten mengalami musibah banjir, sekitar 30 kecamatan tergenang banjir. Jumlah korban terkena dampak banjir mencapai 160 ribu orang.

Pantauan citra satelit Landsat 8, menunjukkan luas hutan Riau tersisa pada 2015 sekira 1.644.862.00 hektar. Data tutupan hutan Jikalahari tahun 2013 luasan hutan tersisa sekira 2.005.512.96 hektar.

"Semuanya berhubungan dengan peran korporasi yang mengeruk alam Riau. Namun habis sumberdaya bagai kacang lupa kulitnya, bukannya kesejahteraan yang diberikan, malah melahirkan bencana untuk Riau sendiri. Hutan alam dibabat habis, digantikan akasia serta perkebunan sawit," ungkap Jikalahari dalam catatannya.

Launching buku '14 Tahun Melawan Monopoli Penguasa Hutan dan Lahan' sendiri dalam undangannya akan menghadirkan Plt Gubernur Riau, Ketua DPRD Riau, Ketua LAM Riau, rektor perguruan tinggi dan praktisi dan pemerhati hutan di Riau.*ref

Bagikan ke:

jikalahari

Posting Terkait