Apresiasi KWQ, Rektor UIR Ingin Jadikan Kampus Tahfidz dan Dakwah Islamiah

22 views

PEKANBARU, LintasRiauNews – Rektor Universitas Islam Riau (UIR) menyambut positif dan mengapresiasi penyaluran mushaf Al-Qur’an oleh Komunitas Kurnia Wakaf Al-Qur’an (KWQ) untuk mahasiswa Tahfidz di kampus yang dipimpinnya. Terlebih, penyaluran mushaf itu sudah yang keempat kalinya dengan jumlah yang cukup signifikan.

“Kami senang dan bersyukur, karena mendapatkan kehormatan dan kemuliaan dengan penyaluran wakaf Al-Qur’an untuk adik-adik mahasiswa Tahfidz di kampus kami. Dan, pemberian ini untuk keempat kalinya dengan jumlah cukup banyak,” kata Rektor UIR Assoc. Prof. Dr. Admiral, SH, MH, dalam sambutannya pada penyerahan wakaf 79 mushaf Al-Qur’an oleh Komunitas KWQ,  di ruang rapat Rektorat UIR, Selasa (14/04/20246).

Admiral mengungkapkan kegembiraannya dalam sebuah pantun. “Kitab suci kita Al-Qur’an/ tak hanya dibaca tapi juga diamalkan/ Hari ini adik-adik mahasiswa Tahfidz menerima wakaf Al-Qur’an/ Terima kasih kepada para pewakaf dan dari Kurnia Wakaf Al-Qur’an,” ujarnya yang disambut aplaus dari hadirin.

Kegiatan ini selain sejumlah pejabat kampus, seperti Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Kerjasama dan Dakwah Islamiah Assoc. Prof. Dr. Ir. H. Deddy Purnomo Retno, ST, MT, GP.A-Utama ini, Direktur Direktorat Dakwah Islam Kampus (DDIK)  Assoc. Prof. Dr. Saproni, B.Ed., M.Ed, Kepala Halal Center  Assoc. Prof. Dr. Anton Afrizal Candra, S.Ag., M.Si, dosen dan mahasiswa, juga turut hadir salah seorang pewakaf, Syahrizal.

Rektor lebih dulu mengawali dengan memperkenalkan kepada segenap jajarannya dan para mahasiswa sosok Pimpinan KWQ A. Z. Fachri Yasin yang merupakan dosen senior dan sudah tidak asing bagi kampus UIR.

“Sejak akhir 1979 beliau sudah jadi dosen Faperta UIR, lalu jadi dekan tahun 1998. Bayangkan, saya sendiri saat itu masih TK dan bercelana pendek, bagaimana pula dengan adik-adik mahasiswa. Jangankan sudah lahir, dipikirkan juga belum, tapi memang sudah tertulis di lauh mahfudz,” ungkapnya setengah bercanda.

Admiral juga menyampaikan kekagumannya kepada sosok Fachri Yasin atas aktivitasnya yang tak berhenti setelah istirahat sebagai dosen UIR sejak akhir 2023 lalu. Diusia yang sudah lanjut, beliau masih tetap semangat dan gigih beraktivitas, salah satunya mengelola kegiatan wakaf Al-Qur’an untuk  Tahfidz yang  membutuhkan, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Menurut Rektor, semua sivitas akademika UIR harus menyadari sepenuh hati bahwa punya tanggungjawab, baik itu pimpinan, dosen, mahasiswa maupun alumni, untuk senantiasa menjalankan syiar Islam. Salah satu aktivitasnya memperbanyak kegiatan membaca Al-Qur’an, dan diupayakan memahami dan diamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sehingga mencerminkan kampus Tahfidz.

“Ini tidak mudah bagi UIR sebagai kampus dengan nilai-nilai Islam, karena jaminannya tercermin pada ekspetasi masyarakat. Jangan sampai nanti, seperti mahasiswa UIR yang diidentikkan alim, tapi dalam kesehariannya tidak mencerminkan itu. Baik dalam ucapan maupun tingkah laku,” paparnya.

Apalagi bagi mahasiswa Tahfidz tentu konsekuensinya lebih besar yang mesti dijaga dan dijalankan. “Tidak mudah juga memang. Tapi, seperti kata Pak Fachri Yasin, dengan menjadi Tahfidz itu memudahkan, termasuk dalam menyerap ilmu dan pelajaran. Salah satunya, kemudahaan bagi mahasiswa Tahfidz fakultas tertentu, diterima dengan baik dan dan dapat beasiswa, termasuk di kampus UIR,” terang Rektor.

Admiral menyebut adanya program tersebut sebagai bentuk penghargaan dan dukungan bagi hafidz/hafidzah yang mempelajari ilmu Al-Qur’an dan menghafalnya, dan diketahui itu butuh perjuangan dan proses yang tidak mudah.

Bagi sivitas akademika UIR, lanjut Rektor, selain tugas pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat (tridarma perguruan tinggi), ada satu lagi kewajiban dasar yang mesti dijalankan yakni syiar Islam. “Sejak 2021, UIR menegaskan kewajiban untuk dakwah Islamiah. Hari ini kembali jadi momen bagi ekspetasi besar kita di UIR terkait kewajiban dakwah tersebut,” katanya.

Rektor berpesan kepada mahasiswa Tahfidz yang mendapat bantuan mushaf untuk semakin giat  membaca dan menghafal Al-Qur’an. “Tapi tidak hanya meningkatkan hafalan, juga memperlancar bacaan sesuai kaidah dan tidak kalah penting memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai dari kitab suci tersebut dalam aktivitas sehari-hari,” ucap Prof. Admiral.

Sebelumnya, Pimpinan Komunitas KWQ A.Z. Fachri Yasin menjelaskan penyaluran wakaf Al-Qur’an untuk mahasiswa Tahfidz UIR ini merupakan yang keempat kalinya dalam rentang waktu empat tahun terakhir. Jumlahnya cukup signifikan, mencapai ratusan mushaf.

“Kenapa ini bisa terjadi di UIR, karena sikap jajaran pimpinan kampus yang responsif dan mudah berkomunikasi terkait penyaluran mushaf Al-Qur’an bagi mahasiswa Tahfidz. Disamping juga tersebab ikatan emosional pribadi saya dengan kampus dan sivitas akademika UIR,” kata Fachri yang pernah jadi dosen dan Dekan Faperta UIR pada masanya itu.

Bantuan mushaf dengan metode tajwid dan terjemahan berwarna produksi King Salman itu sebagai bentuk apresiasi dan dukungan dari komunitas KWQ kepada mahasiswa yang telah mendedikasikan waktunya membaca dan menghafal Al-Qur’an di tengah kesibukan akademik. Diharapkan pemberian mushaf baru akan memotivasi mereka meningkatkan hafalannya.

“Kita di bulan ini sudah mengagendakan penyaluran mushaf untuk mahasiswa Tahfidz delapan perguruan tinggi di Pekanbaru, sebagian besar sudah dilaksanakan, termasuk di UIR hari ini. Tinggal beberapa kampus lagi yang belum, seperti UNRI dan Universitas Abdurrab karena masih menunggu konfirmasi jadwal penyerahan,” ungkapnya.

Menurut Fachri, dalam kegiatan penyaluran wakaf Al-Qur’an kepada kalangan pelajar dan mahasiswa Tahfidz ini pihaknya cukup sering dihadapkan dengan lambannya respons dan komunikasi dari institusinya. Padahal, pihaknya hanya butuh data Tahfidz dan jadwal penyerahan secara jelas.

“Inilah problem sekaligus tantangan kami dalam penyaluran wakaf Al-Qur’an. Di sisi lain,  kami harus melaksanakan amanah dari para pewakaf yang jumlahnya terus meningkat secara bertanggung jawab dan tepat sasaran. Makanya, kami berharap kerjasama yang baik dalam sinergi kebaikan ini,” paparnya.

Terkait keberadaan KWQ yang dipimpinnya, Fachri mengakui kendati sudah berjalan aktif selama hampir empat tahun membantu mushaf Al-Qur’an untuk para Tahfidz yang membutuhkan di Riau, toh masih banyak yang bertanya-tanya, termasuk status hukumnya.

“Kami bukanlah yayasan atau perkumpulan yang berbadan hukum, melainkan hanya berupa komunitas dengan sejumlah kecil anggota sebagai penggerak. Sejauh ini, fokus kegiatan kami hanya dua, yakni menghimpun dan menyalurkan mushaf Al-Qur’an kepada Tahfidz yang memiliki hafalan 2 juz ke atas,” terangnya.

Alhamdulillah, lanjut dia, selama empat tahun berjalan pihaknya sudah menghimpun sekira 500-an pewakaf dengan hampir 5.000 Al-Qur’an yang disalurkan kepada Tahfidz dari kalangan siswa SD-SMA di sekolah/madrasah negeri dan swasta, pondok pesantren hingga mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi di Riau.

“Pewakaf tersebut berasal dari berbagai kalangan dan profesi. Intinya mereka adalah teman-teman, ada yang pejabat, pengusaha, dosen hingga mahasiwa dan alumni se-almamater. Namun, ada juga pewakaf yang tidak saya kenal, tapi memberikan donasi untuk wakaf Al-Qur’an cukup signifikan. Semua bisa kami layani dan bantu akses untuk berwakaf, dan kami pertanggungjawabkan” tuturnya.

Fachri meyebut para pewakaf tersebut namanya tertera di sampul mushaf, tapi tidak semua atas nama pribadi, ada yang juga diberikan atas nama orang tua, istri dan keluarga lainnya, termasuk yang sudah almarhum, atau bahkan hanya ditulis hamba Allah. Harapan pewakaf sederhana, hanya minta Al-Qur’an ini dimanfaatkan dengan baik serta doakan untuk kebaikan dan keberkahan mereka.

Seperti pada 79 mushaf yang diperuntukkan bagi mahasiwa Tahfidz UIR, berasal dari donasi 16 pewakaf. Edy Sabli, Samsir Alam, Syahrizal, Sadino, Roni Rachmat, Ramli Walid, Yahya Habibun, Raffa Zahir, Raimi Zafran, Nurbaiti, Abdul Khair Zubir, Nurhasni, Asnimar, Irdon, Ardinal, Rahmaniar, Welly Wirman dan Mimando.

Akan tetapi, yang juga cukup sering terjadi dan disayangkan adalah saat penyerahan mushaf, dimana para tahfidz tidak sepenuhnya hadir sejumlah yang terdata. “Seperti di UIR hari ini, dari 79 orang hanya sekira 60 persen yang datang, dan komitmen kami hanya dibagikan yang hadir.  Ini juga sebagai pembelajaran, terkait disiplin dan penghargaan. Kita bawa baik dan alihkan ke tahfidz lain, walau jadi problem tersendiri bagi kami,” katanya.

Lebih jauh Pimpinan KWQ mengungkapkan penting dan perlunya membaca, memahami dan menghafal Al-Qur’an bagi pelajar dan mahasiswa. Disamping mendapat pahala yang banyak, juga bermanfaat untuk kecerdasan dan kesehatan.

“Dari hasil penelitian ilmiah yang pernah saya baca, mereka yang hafidz Qur’an otaknya lebih cemerlang di bidang akademik, dan cepat menyerap ilmu eksakta seperti kedokteran. Jiwa dan badannya juga lebih sehat, disamping berakhlak mulia. Saya meyakininya, makanya saya harap para mahasiswa UIR senantiasa membersamai Al-Qur’an karena mendatangkan kebaikan dunia akhirat,” jelasnya.

Fachri juga mengapresiasi dan mendukung komitmen dan rencana pimpinan UIR yang akan terus  mengembangkan program Tahfidz di kampus dengan pola lebih terstruktur dan terukur, sehingga memiliki ciri khas dan keunggulan tersendiri.

“Ini kebijakan dan terobosan yang bagus dan perlu disegerakan. Dipastikan akan membawa dampak positif, baik terhadap eksistensi kampus maupun mempengaruhi perilaku mahasiswa menjadi semakin baik,” pungkasnya.

A. Z. Fachri Yasin saat menjelaskan kegiatan wakaf Al-Qur;an dan memotivasi motivasi para mahasiswa.

Beri Motivasi dan Berinteraksi    

Tidak sekadar menyalurkan Al-Qur’an, seperti yang sudah-sudah, Pimpinan Komunitas KWQ yang juga akademisi senior Riau ini memanfaatkan momentum itu untuk memberi pencerahan dan motivasi kepada mahasiswa Tahfidz UIR terkait pentingnya pendidikan dan cita-cita untuk masa depan.

Dengan gaya khas dan suaranya yang lantang, pria yang akan menginjak usia 73 tahun berinteraksi dan berdialog dengan mahasiswa dari berbagai fakultas itu. Ia membangkitkan semangat dan tekad para mahasiswa dengan melontarkan sejumlah pertanyaan. Diawali dari jumlah hafalan Al-Qur’an saat ini dan target ke depannya, kemudian tentang kelanjutan pendidikan dan profesi yang diidamkan.

Para mahasiswa yang awalnya terkesan malu-malu, tapi kemudian berani dan percaya diri menjawab pertanyaan yang dilontarkan Pimpinan KWQ. Mereka tampak antusias dan merespons pertanyaan yang diajukan dengan cepat. Apalagi, kadang diselingi celetukan atau guyonan yang membuat suasana cair dan akrab.

Seperti ketika ditanya siapa yang mau melanjutkan S2 hingga S3, beberapa mahasiswa yang ditanya  menjawa spontan dan percaya,. Ada yang tetap di kampus yang ada di Riau, ada yang juga yang ke luar daerah, bahkan luar negeri, dengan masing-masing alasan dan pertimbangan. Demikian ketika ditanya tentang cita-cita, para mahasiswa menjawab dengan spontan, ada yang ingin jadi dosen, Ustadz, PNS hingga pengusaha dengan alasan dan pertimbangannya.

Saat berinteraksi dengan para mahasiswa, Fachri Yasin menekankan pentingnya pendidikan sebagai kunci kesuksesan dan mewujudkan cita-cita dalam kehidupan.  “Dimulai dengan niat hingga tertanam dalam hati, kemudian jadi timbul dan semangat serta tekad untuk mewjudkannya,” ujarnya.

Fachri Yasin mencontohkan dirinya yang masih beraktivitas di usia sudah mau 73 tahun. “Kenapa masih bisa seperti ini, karena masih ada semangat tadi.  Sepanjang yang yakin baik dan berdampak positif, saya tidak pedulikan apa kata orang,” tukasnya.

Syahrizal

Pada kesempatan itu, Syahrizal selaku seorang pewakaf dan Fari Suradji dari KWQ, juga ikut memberikan pencerahan dan motivasi kepada mahasiswa dari pengalaman masing-masing saat kuliah hingga mendapatkan pekerjaan dengan karir yang tergolong sukses.

Syahrizal menekankan pentingnya semangat dan tekad untuk meraih masa depan yang cerah. Ia memberikan tips yang dinilai cukup mumpuni sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan. Bagi yang ingin terjun ke dunia usaha, ada tiga hal wajib, yaitu harga bersaing, kualitas dan layanan.

“Untuk menjadi pribadi yang mandiri dan sukses serta bisa hidup nyaman, maka jangan pernah menganggur, cari pekerjaan yang menghasilkan dan halal, sehingga bisa beli rumah dan kendaraan semasa masih muda. Itu modal dasar, baru kemudian dicari usaha atau pekerjaan dengan penghasilan kontinyu,” pungkas Syahrizal yang merupakan alumni FNGT Unri dan Unand Padang ini.

Kegiatan penyaluran wakaf Al-Qur’an kepada mahasiswa Tahfidz UIR diawali dengan penyerahan mushaf dari Pimpinan KWQ kepada Rektor UIR, yang diteruskan kepada perwakilan mahasiswa. Selanjut pembagian secara langsung kepada masing-masing mahasiswa penerima yang dilakukan bersama-sama oleh pewakaf dan jajaran pimpinan dan dosen UIR.

Para mahasiswa Tahfidz tampak gembira bercampur haru saat menerima mushaf baru dan gratis tersebut. Acara pun diakhiri foto bersama.

Sebagai informasi tambahan, penyaluran wakaf Al-Qur’an oleh komunitas KWQ terus berlanjut di beberapa kampus lainnya. Termasuk untuk siswa sekolah dan madrasah. Diagendakan, Jumat (17/04/2026): penyerahan 49 Al-Qur’an kepada siswa Tahfidz Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pekanbaru, kemudian Selasa (28/04/2022): Penyerahan 28 Al-Qur’an kepada mahasiswa Tahfidz Universitas Abdurrab Pekanbaru. (*/ers)

Posting Terkait