Dapat Al-Qur’an dari KWQ, Santri PP Al-Ikhwan Bercita-cita Tinggi

4 views

PEKANBARU, LintasRiauNews – Puluhan santri Pondok Pesantren (PP) Al-Ikhwan Pekanbaru mendapat mushaf Al-Qur’an baru dari Komunitas Kurnia Wakaf Al-Qur’an (KWQ). Selain jadi hafidz Qur’an, para santri yang berasal dari keluarga dengan latar ekonomi berbeda, ternyata juga memiliki keinginan sama dan cita-cita tinggi di masa depan.

Mushaf Al-Qur’an metode tajwid dan terjemahan berwarna yang diserahkan kepada 62 santri Tahfidz Ponpes yang juga mengelola Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) itu bersumber dari sejumlah pewakaf yang dihimpun komunitas KWQ.

Penyerahan wakaf Al-Qur’an yang dilakukan langsung Pimpinan KWQ A. Z. Fachri Yasin bersama Tim berlangsung di Mesjid di komplek PP Al-Ikhwan, yang berlokasi di Jalan Pesantren, Kulim, Sabtu (16/05/2026) pagi. Turut hadir salah seorang pewakaf, Ir. Syahrizal.

Pihak Ponpes diwakili Kepala Madrasah Aliyah (MA) Ust. Nuralde Firdaus S.PdI dan Kepala MTs Ust. Ahmad Sabri, SH beserta sejumlah guru atau ustadz-ustadzah. Meski digelar sederhana, acara berlangsung khidmat dalam suasana akrab dan kekeluargaan. Para santri yang dikelompokkan dalam dua barisan, ikhwan dan akhwat, duduk dengan tertib dan antusias mengikuti acara.

Acara diawali dengan tilawah Al-Qur’an yang dilantunkan dengan fasih dan merdu oleh M. Afif Amar, santiri kelas IV Tahfidz, yang membacakan surah Al Isra ayat 9-12. Dilanjutkan pembacaan doa oleh Ust. Azizurrahman, salah seorang guru Tahfidz Ponpes.

Mewakili Pimpinan PP Al-Ikhwan, Kepala MA Ust. Nuralde Firdaus SPdI dalam sambutannya mengatakan penyaluran wakaf Al-Quran ke Ponpes ini oleh Komunitas KWQ merupakan yang kedua kalinya. Untuk itu, ia  mengucapkan terima kasih banyak kepada Komunitas KWQ maupun para pewakaf.

Ust. Nuralde menyampaikan salam dan maaf dari Pimpinan Ponpes karena tidak bisa hadir karena urusan yang tidak bisa ditinggalkan. ”Semoga niat mulia para pewakaf dan pengurus KWQ ini diridhai dan dimudahkan Allah Swt, sekaligus diberi balasan setimpal dan menjadi amal jariyah,” tuturnya.

Wakaf mushaf yang dihimpun oleh pengurus KWQ dari para pewakaf ini, lanjut dia, diperuntukkan bagi para penghafal Al-Qur’an dengan tujuan untuk membumikan Al Qur’an di Riau. “Kita doalan hendaknya istiqamah dan diberi kesehatan agar dapat selalu berbuat membantu anak bangsa, khususnya penghafal Al-Qur’an,” ujarnya.

Kepada para santri diingatkan agar Al-Qur’an wakaf ini digunakan, dengan terus dibaca dan dihafal sebagai bekal kehidupan. Karena mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an adalah perintah Allah. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya,” katanya mengutip sebuah hadist riwayat Imam Bukhari.

Di samping itu, dengan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk keperluan menghafal Al-Qur’an, maka apa yang menjadi niat para pewakaf kesampaian. ”Jadi, jangan disimpan sehingga jadi teman debu,” pesannya.

Ust. Nuralde menjelaskan antara wakaf dan sedekah berbeda. Kalau sedekah, setelah diberi selesai sudah, dapat pahala setimpal. Sedangkan wakaf, selama dimanfaatkan oleh penerima, maka pahalanya terus mengalir.

‘Sebaliknya, bila tidak dimanfaatkan, tidak akan dapat apa-apa para pewakaf. Maka dari itu, kita mendapatkan kebaikan dengan menggunakannya untuk dihafal, dan bagi pewakaf juga mendapatkan manfaat amal jariyah,” pungkasnya.

Pimpinan KWQ A. Z. Fachri Yasin dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada pengelola PP Al-Ikhwan karena telah memfasilitasi penyaluran wakaf Al-Qur’an untuk kedua kalinya. Penyaluran pertama pada 14 Juni 2024 lalu sebanyak 133 mushaf.

“Untuk yang kedua ini, kami sebelumnya mendapatkan data ada lebih kurang 82 santri MA yang hafal 2 juz. Namun, hari ini kami hanya serahkan 62 mushaf untuk santri yang memiliki hafalan 3 juz ke atas,” katanya.

Fachri mengungkapkan penyerahan wakaf Al-Qur’an di PP Al-Ikhwan adalah penyaluran yang ke-31 kali selama tahun 2026. Sebelumnya, telah disalurkan kepada Tahfiz di berbagai lembaga pendidilan, mulai dari sekolah/madrasah negeri dan swasta, pesantren hingga enam perguruan tinggi di Pekanbaru.

Dia juga meluruskan bahwa Kurnia Wakaf bukan yayasan atau perkumpulan berbadan hukum, tetapi hanya berupa komunitas yang digerakkan sejumlah kecil anggota. Toh demikian, mampu menghimpun lebih dari 200 pewakaf  (wakif) dari berbagai kalangan.

“Pewakaf tersebut beragam orangnya, mulai dari pejabat, mantan pejabat hingga petani. Mereka berwakaf mulai dari satu mushaf hingga seratus lebih mushaf. Khusus untuk Ponpes ini berasal dari 15 wakif, nama mereka tertera di sampul mushaf,” jelasnya.

Fachri menyebut Komunitas KWQ hanya fokus pada dua kegiatan, yakni menghimpun wakaf Al-Qur’an dari wakif dan menyalurkannya kepada Tahfidz dengan hafalan minimal 2 juz. Sejak mulai aktif medio Juni 2022 lalu sampai saat ini telah menyalurkan lebih kurang 5.000 Al-Qur’an kepada para Tahfidz yang ada di Riau.

“Kalau sekarang di Ponpes ini kenapa diberikan untuk santri dengan hafalan 3 juz ke atas, jawabannya terkait persediaan atau stok yang ada. Artinya, ke depan masih ada kemungkinan diberikan kepada yang hafal 2 juz. Kalau untuk yang hafal 1 juz, tidak diberikan karena jumlahnya akan sangat banyak, sedangkan kemampuan kami terbatas,” paparnya.

Fachri juga menerangkan para wakif yang namanya tercantum di punggung di mushaf, tapi peruntukkannya tidak semua atas nama bersangkutan. Ada juga yang diberikan atas nama orang tua, istri, anak dan keluarga lainnya, termasuk yang almarhum atau hamba Allah. Nama peruntukkan wakaf itu tertulis di bagian depan mushaf.

Pimpinan KW menyebutkan kelebihan dari mushaf yang memuat terjemahan ini. “Selain ada tuntunan cara membaca untuk kemudian dihafal, pembaca juga bisa memahami dan menikmati maksud atau arti setiap ayat-ayat dalam Al-Qur’an,” ujarnya.

Pimpinan KWQ berdialog dengan santri-santriwati.

Pendidikan dan Cita-cita

Seperti yang sudah-sudah, Pimpinan KWQ yang juga akademisi senior Riau ini memanfaatkan momentum tersebut untuk berinteraksi dan berdialog dengan para santri PP Al-Ikhwan, sekaligus memberi pencerahan dan motivasi guna meraih masa depan cemerlang.

Dari dialog lewat tanya jawab dengan sejumlah santri-santriwati itu terungkap berbagai hal positif serta sisi lain yang menarik. Terkait pendidikan, para santri yang berasal dari keluarga dengan latar ekonomi berbeda itu umumnya berkeinginan sama untuk melanjutkan hingga ke jenjang tertinggi. Bahkan, di antaranya yang ingin kuliah di kampus terkenal di luar negeri.

Para santri juga menyimpan cita-cita tinggi di masa depan. Seperti disampaikan M. Afif Amar. Santri kelas IV (setara kelas X MA) ini setelah tamat nanti ingin meneruskan pendidikan ke STAI Diniyah Pekanbaru. Siswa yang memiliki hafalan 16 juz dan berasal dari keluarga ASN ini bercita-cita jadi ahli agama Islam.

Akan halnya Farid, bahkan punya keinginan yang ambisisus. Santri yang juga dari kelas IV ini ingin kuliah RWTH (Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule) Aachen University di Jerman, mengambil bidang Teknik Aeronautika. Sehingga kelak bisa jadi ahli dirgantara atau penerbangan.

“Kenapa Anda mau kuliah di Jerman dan memilih bidang teknik itu?” tanya Fachri Yasin. “Harus beda dengan yang lain, Pak,” ujarnya polos. “Berarti Anda ingin mengikuti jejak BJ Habibie, tahu itu siapa?” tanya Fachri lagi. “Betul, Pak. Pernah jadi Presiden RI,” jawabnya.

Demikian pula Sandi, siswa kelas IV lainnya. Anak pertama dari dua bersaudara yang mengaku orangtuanya bekerja di bengkel motor ini ingin kuliah di Al Azhar Kairo, Mesir, sehingga kelak bisa jadi ahli agama Islam yang mumpuni.

Para santriwati PP Al-Ikhwan juga tak mau ketinggalan. Seperti yang disampaikan Dinda, santri kelas II (setara kelas 8 MTs), ingin kuliah di Fakultas Kedokteran UIN. Ia tertarik dengan bidang kesehatan dan ingin jadi dokter kelak.

Santriwati lain, Ida, kelas IV (setara kelas X MA), juga ingin kuliah setelah menamatkan pendidikan di ponpes. Ia ingin masuk IPDN dan mengambil bidang hukum, untuk kemudian berkiprah di pemerintahan.

Yang cukup menarik dan menggugah adalah santri kelas V (kelas XI MA) bernama Habibullah yang juga didaulat menjadi MC (pembawa acara) pada acara tersebut. Ia mengaku orangtuanya hanya penjual kacang rebus, sehingga mendorongnya untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi agar punya masa depan yang lebih baik.

Ketika ditanya rencana kuliah nanti, Habib dengan lugas mengatakan ingin kuliah di Fakultas Hukum UIR (Universitas Islam Riau). “Bagus, saya lihat Anda punya semangat yang kuat dan percaya diri yang tinggi. Anda terlihat cukup bagus sebagai MC, sepertinya sudah sering jadi MC,” kata Fachri yang diiyakan oleh Habib dengan raut semringah.

Kepada segenap santri, Pimpinan KWQ berpesan untuk senantiasa percaya diri dan berani berbicara. “Kalau untuk kebaikan kenapa harus takut dan malu.  Penting dan perlu, kalian harus menanam niat dan rencana terkait pendidikan dan cita-cita ke depannya, sehingga tahu kemana akan melangkah. Soal tercapai atau tidak, itu hal lain,” tandasnya.

Tak kalah penting, Fachri Yasin mengingatkan agar niat dan rencana seperti yang tadi disampaikan itu harus diberitahukan sesegera mungkin kepada orang tua karena perlu dukungan untuk mewujudkannya.

Syahrizal

Salah seorang pewakaf, Syahrizal, yang didaulat menyampaikan kesan dan pesan menjelaskan sekilas sosok Pimpinan KWQ yang tak lain dosennya saat jadi mahasiswa FNGT Unri. .

“Saya mengenal dekat beliau karena dulu dosen saya dan kemudian jadi Dekan Faperta Unri. Setelah tamat kuliah dan bekerja di berbagai perusahaan hingga pensiun, saya tetap berkomunikasi dan berkonsultasi dengan beliau sampai sekarang,” ungkapnya.

Faktor kedekatan itu pula yang membuatnya tertarik turut berwakaf Al-Qur’an melalui KWQ. Karena diyakini akan dikelola dan disalurkan dengan baik kepada Tahfidz yang membutuhkan.

Syahrizal mengaku terkesan dengan semangat para santri untuk menjadi penghafal Al-Qur’an. Begitu juga dengan keinginan dan cita-cita tinggi untuk kuliah hingga ke luar negeri.

“Lanjutkan terus menghafal, lakukan di setiap kesempatan, tetap semangat hingga berhasil jadi hafidz yang diidamkan,” ujar pria yang semua anaknya menimba ilmu di pesantren dan juga jadi hafidz.

Kepada santri yang ingin berkeinginan melanjutkan ke perguruan tinggi nanti, ia berpesan agar sebaiknya kuliah sambil bekerja. “Upayakan cari pekerjaan sehingga bisa membiayai kuliah dan tidak membebani orang tua,. Biasanya yang bisa mandiri lebih besar peluangnya untuk sukses,” kata Syahrizal.

Acara dilanjutkan dengan penyerahan wakaf Al-Qur’an kepada masing-masing siswa yang dilakukan secara bersama-sama, diawali Pimpinan KWQ, Pimpinan Madrasah hingga majelis guru/ustadz, dan diakhiri foto bersama.

Sebagai informasi tambahan, PP Al-Ikhwan yang didirikan dan dipimpin Buya TM Busra, merupakan Lembaga Pendidikan Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berbasis Kitab Kuning (Kutab Turats) sebagai rujukan Ilmu-ilmu syar’iyah yang memadukan kurikulumnya dengan kurikulum Madrasah Kemenag.

Ponpes ini juga membuka kelas khusus Tahfidz Plus sebagai wadah pembinaan santri-santri penghafal Al-Qur’an dan Takhassus. Disamping kelas reguler,  MA dan MTs yang didirikan dan beroperasional sejak 2010,* (ers)

Posting Terkait