LintasRiauNews.com,BANGKINANG — Keberadaan tempat belajar kelas jauh SDN 007 Sungai Agung, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, yang disebut telah berdiri selama sekitar 22 tahun, kini menjadi perhatian setelah kondisi bangunannya viral di media sosial.
Viralnya video yang memperlihatkan kondisi bangunan berdinding triplek tersebut akhirnya mendorong sejumlah pihak turun langsung ke lokasi. Mulai dari Dinas Pendidikan, pemerintah kecamatan, Wakil Bupati Kampar hingga anggota DPRD disebut telah melihat kondisi tempat belajar tersebut.
Namun, di balik langkah tersebut muncul pertanyaan yang lebih mendasar:
Jika kelas jauh itu sudah berdiri sekitar 22 tahun, selama ini siapa yang melakukan pendataan, pembinaan dan pengawasannya?
Pertanyaan tersebut mengemuka setelah adanya penjelasan dari Wakil Bupati Kampar dan guru yang mempublikasikan kondisi sekolah tersebut.
Guru kelas jauh, Romawati, menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menjelekkan ataupun menyudutkan pemerintah ketika merekam dan menyebarkan kondisi tempat belajar tersebut.
Menurutnya, video itu dibuat karena kondisi sekolah memang membutuhkan perhatian, sementara lokasi kelas jauh tersebut berada cukup jauh dari pusat pemerintahan.
“Saya tidak menjelekkan pemerintah. Karena SD kami ini sangat jauh dan pemerintah mungkin tidak tahu. Alhamdulillah setelah video saya viral, sekarang semuanya pemerintah, baik dari Dinas Pendidikan, camat, ibu wakil bupati, maupun bapak-bapak DPRD, sudah datang,” ujar Romawati.
Ia mengaku merasa tidak nyaman apabila video tersebut kemudian dianggap sebagai bentuk menyalahkan pemerintah.
“Saya jadi tidak enak, seakan-akan saya menjelekkan pemerintah. Saya kan tidak menjelekkan pemerintah,” katanya.
Bukan Sekolah Induk, Melainkan Kelas Jauh
Romawati menjelaskan, bangunan yang diperlihatkan dalam video bukan merupakan sekolah induk, melainkan tempat belajar kelas jauh yang berada di bawah SD Negeri 007 Sungai Agung.
Para siswa yang belajar di lokasi tersebut, menurutnya, masih tergabung dengan sekolah induk.
Namun, Romawati juga menjelaskan bahwa keberadaan lokasi kelas jauh tersebut belum tercatat secara resmi di Dinas Pendidikan.
Kondisi inilah yang kemudian menjadi bagian dari penjelasan mengapa keberadaan dan kondisi fisik tempat belajar tersebut sebelumnya belum diketahui secara langsung oleh pemerintah daerah.
Wabup: Kalau Tidak Ada Publikasi, Kami Tidak Tahu
Sebelumnya, Wakil Bupati Kampar menyampaikan bahwa pemerintah daerah bersyukur mendapatkan informasi mengenai keberadaan kelas jauh tersebut setelah kondisi bangunannya dipublikasikan melalui media sosial.
“Saya pemerintah bersyukur juga, akhirnya pemerintah tahu ada sekolah ini. Kalau tidak ada publikasi, ya kita tidak tahu,” ujar Wakil Bupati Kampar.
Ia menjelaskan, kelas jauh tersebut telah ada sekitar 22 tahun dan merupakan bagian dari layanan pendidikan SDN 007 Sungai Agung.
Menurut penjelasan Wabup, peserta didik yang belajar di lokasi tersebut dilaporkan melalui sekolah induk. Namun, keberadaan kelas jauh tersebut disebut tidak dilaporkan kepada Dinas Pendidikan.
Wabup bahkan menyampaikan bahwa dirinya meminta kepala dinas terlebih dahulu melakukan pengecekan terhadap kondisi kelas jauh tersebut sebelum menentukan langkah selanjutnya.
22 Tahun Berdiri, Mengapa Baru Diketahui Setelah Viral?
Penjelasan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme pendataan dan pengawasan pendidikan di wilayah Kabupaten Kampar.
Jika benar kelas jauh tersebut telah berdiri selama sekitar 22 tahun dan merupakan bagian dari SDN 007 Sungai Agung, maka publik berhak mengetahui bagaimana proses pembinaan dan pengawasannya selama ini.
Apakah keberadaan kelas jauh tersebut diketahui kepala sekolah induk?
Apakah diketahui pengawas sekolah?
Apakah pernah dilaporkan kepada Korwil pendidikan?
Apakah Dinas Pendidikan pernah melakukan monitoring?
Dan bagaimana status data peserta didik, rombongan belajar serta lokasi kelas jauh tersebut dalam sistem pendataan pendidikan?
Pertanyaan tersebut penting dijawab agar persoalan ini tidak berhenti pada polemik video viral.
Sebab, jika persoalan administrasi memang menjadi penyebab lokasi tersebut tidak diketahui pemerintah, maka hal tersebut justru menjadi momentum untuk melakukan pembenahan tata kelola dan pendataan kelas jauh di Kabupaten Kampar.
Jangan Berhenti Setelah Viral
Romawati berharap perhatian pemerintah setelah viralnya video tersebut tidak berhenti pada kunjungan dan dokumentasi.
Ia berharap kondisi bangunan segera diperbaiki atau direhabilitasi sehingga anak-anak di wilayah tersebut tetap dapat belajar di lokasi yang dekat dengan tempat tinggal mereka.
Menurutnya, keberadaan kelas jauh sangat membantu masyarakat karena anak-anak tidak harus menempuh perjalanan jauh menuju sekolah induk.
“Alhamdulillah sekarang sudah menjadi perhatian semua. Saya berharap kondisi ini bisa diperbaiki sehingga anak-anak tetap bisa belajar di sini dan tidak harus pergi jauh ke sekolah induk,” ujarnya.
Kini Bola Ada di Pemkab Kampar
Viralnya kondisi kelas jauh SDN 007 Sungai Agung setidaknya telah membuat pemerintah melihat langsung kondisi yang sebelumnya belum menjadi perhatian publik.
Karena itu, langkah berikutnya bukan lagi memperdebatkan siapa yang salah atau siapa yang membuat video tersebut viral.
Yang perlu dijawab adalah bagaimana pemerintah memastikan kelas jauh tersebut mendapatkan status administrasi yang jelas, pengawasan yang berkelanjutan dan fasilitas pendidikan yang layak.
Jika benar telah berjalan selama 22 tahun, maka persoalannya bukan hanya mengenai kondisi bangunan berdinding triplek.
Ini juga menyangkut rantai pendataan, pembinaan dan pengawasan pendidikan selama dua dekade.
Dan pertanyaan publik kini sederhana:
Jika kelas jauh SDN 007 Sungai Agung sudah berdiri selama 22 tahun, selama ini dalam pengawasan siapa?
Hingga berita ini diterbitkan, media masih membuka ruang bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar, kepala sekolah SDN 007 Sungai Agung, pengawas sekolah maupun pihak terkait lainnya untuk memberikan penjelasan mengenai status administrasi, pendataan dan pengawasan kelas jauh tersebut.**(ian)



