LintasRiauNews.com,PEKANBARU – Setelah mengabdikan diri selama lebih dari 36 tahun di dunia pendidikan Provinsi Riau, H. Sahid Suwarno, S.Pd., M.M., resmi memasuki masa purna tugas pada 6 Oktober 2026. Namun, berakhirnya masa pengabdian sebagai aparatur pendidikan tidak membuat kepeduliannya terhadap dunia pendidikan ikut berhenti.
Mantan Kepala SMAN 4 Pekanbaru ini memiliki perjalanan panjang dalam dunia pendidikan. Sejak pertama kali mendapat penugasan dari pemerintah pusat pada 1990, Sahid telah melewati berbagai jenjang tugas, mulai dari guru mata pelajaran hingga menduduki jabatan kepala sekolah di sejumlah satuan pendidikan.
Dalam wawancara bersama media LintasRiauNews.com di salah satu kafe di Jalan Soekarno-Hatta, Pekanbaru, Sabtu (31/10/2026), Sahid menceritakan perjalanan pengabdiannya selama lebih dari tiga dekade di dunia pendidikan Riau.
Penugasan pertamanya di Provinsi Riau dimulai pada 1990 sebagai guru di SMAN 5 Pekanbaru. Namun, setelah sekitar tiga bulan, ia kemudian dipindahkan ke SMAN 1 Pekanbaru.
Selama kurang lebih tujuh tahun, Sahid mengajar mata pelajaran Kimia di sekolah tersebut. Selanjutnya, sekitar 1997, ia mendapat penugasan di SMAN 6 Pekanbaru.
Di SMAN 6, perjalanan kariernya semakin berkembang. Belum genap enam bulan bertugas, ia dipercaya menjadi wakil kepala sekolah. Jabatan tersebut diembannya hingga 2018, melewati sembilan pergantian kepala sekolah.
Sebelumnya, pada 2015, Sahid mengikuti seleksi calon kepala sekolah. Tiga tahun kemudian, tepatnya 2018, ia mendapat amanah sebagai kepala sekolah di SMA Negeri Olahraga.
Salah satu pengalaman penting selama memimpin sekolah tersebut adalah ketika mendapat arahan dari Gubernur Riau saat itu, Syamsuar, untuk mengembangkan SMA Negeri Olahraga menjadi Sekolah Khusus Olahraga (SKO).
Bersama bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK), Sahid ikut menyusun regulasi berupa peraturan gubernur sebagai landasan perubahan tersebut hingga terbentuknya SKO.
Setelah menjalankan tugas di SMA Negeri Olahraga, Sahid kemudian mendapat penugasan di SMAN 2 Pekanbaru pada November 2023. Ia bertugas di sekolah tersebut sekitar tiga bulan, hingga Januari 2024.
Selanjutnya, pada Januari 2024, ia dipercaya memimpin SMAN 4 Pekanbaru dan menjalankan tugas hingga memasuki masa purna tugas pada 6 Oktober 2026.
“Kalau dihitung, masa kerja saya dari awal bertugas sampai pensiun sekitar 36 tahun lebih delapan bulan. Sementara total menjadi kepala sekolah sekitar delapan tahun lebih delapan bulan,” ungkap Sahid.
Peran Guru Jangan Tergeser oleh Teknologi
Di balik perjalanan panjangnya sebagai pendidik, Sahid memiliki pandangan tersendiri mengenai perubahan dunia pendidikan, terutama ketika teknologi digital, Google, dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin mudah diakses oleh siswa.
Menurutnya, perkembangan teknologi memang memberikan banyak kemudahan dalam proses belajar. Siswa bisa memperoleh informasi dan jawaban atas berbagai persoalan pelajaran hanya melalui perangkat digital.
Namun, ia mengingatkan bahwa pendidikan tidak sekadar mengejar kemampuan akademik dan nilai ujian. Ada aspek pembentukan karakter yang tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada teknologi.
“Kalau anak belajar Kimia tanpa diajar guru, barangkali dengan membuka Google atau AI hari ini nilainya bisa seratus. Tetapi pemerintah jangan lupa, karakter itu tidak bisa dibentuk hanya dengan anak membuka Google,” ujarnya.
Ia mencontohkan nilai-nilai seperti menghormati orang tua, berbakti, disiplin, serta menjalankan kewajiban agama. Menurut Sahid, hal-hal tersebut membutuhkan keteladanan, arahan, dan pendampingan langsung dari guru.
Karena itu, ia mengingatkan agar peran guru tidak semakin terpinggirkan akibat tuntutan administrasi dan perkembangan teknologi.
“Peran guru jangan sampai tergeser dengan kesibukan-kesibukan administrasi. Tetaplah kedepankan bahwa pembentukan karakter lebih penting dari segala-galanya,” tegasnya.
Sahid juga berpesan kepada para guru agar tidak terlalu bergantung pada AI maupun Google. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu dalam pembelajaran, bukan menggantikan tanggung jawab pendidik dalam membimbing dan membentuk karakter peserta didik.
Pesan untuk Siswa dan Guru
Kepada para siswa, Sahid berpesan agar tetap menjaga sikap dan menghormati guru. Ia menilai pembentukan karakter tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar, melainkan dapat dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
“Selama ini apa-apa yang Bapak ajarkan memang dari hal-hal kecil. Kami tidak pernah membuat perubahan besar, tetapi dari yang kecil itu kalau dikumpulkan juga akan mengkristal menjadi sesuatu yang besar. Karakter itu sangat penting,” tuturnya.
Pesan tersebut juga ditujukan kepada para guru agar tetap mengedepankan pendidikan karakter di tengah perubahan zaman.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya terlihat dari tingginya nilai akademik, tetapi juga dari sikap, perilaku, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang tumbuh dalam diri peserta didik.
Dari Dunia Pendidikan hingga Prestasi Aeromodelling
Di luar kesibukannya sebagai guru dan kepala sekolah, Sahid juga memiliki kecintaan terhadap dunia aeromodelling. Ketertarikan tersebut mulai digelutinya sejak 2008.
Perjalanannya bermula ketika mempelajari aeromodelling dan kemudian berkenalan dengan personel Lanud Roesmin Nurjadin, yang saat itu dikenal dengan nama Lanud Simpang Tiga.
Dari sana, ia bergabung dalam jajaran atlet Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) pada cabang olahraga aeromodelling.
Bersama tim aeromodelling Provinsi Riau, Sahid ikut mempersiapkan atlet untuk berlaga pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012. Dalam ajang tersebut, kontingen Riau berhasil meraih medali emas dan perak.
Prestasi berlanjut pada PON 2016 di Jawa Barat. Atlet aeromodelling Riau kembali berhasil memperoleh medali emas.
Sementara pada PON 2021 di Papua, atlet aeromodelling Riau berhasil meraih medali perak. Adapun pada PON 2024, tim aeromodelling Riau tidak berhasil memperoleh medali.
Meski telah pensiun dari dunia pendidikan, Sahid mengaku tidak ingin meninggalkan aktivitas pembinaan aeromodelling. Justru dengan waktu yang lebih leluasa, ia ingin lebih fokus mempersiapkan atlet untuk menghadapi PON 2028 di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Aeromodelling, Drone, dan Peluang di Dunia Pendidikan
Menurut Sahid, aeromodelling tidak hanya berkaitan dengan olahraga atau hobi menerbangkan pesawat model. Perkembangan teknologi membuat bidang ini memiliki pemanfaatan yang semakin luas, mulai dari pemetaan, fotografi udara, hingga berbagai kebutuhan teknologi lainnya.
Ia menjelaskan bahwa drone merupakan bagian dari perkembangan aeromodelling. Karena itu, pemahaman mengenai keselamatan penerbangan dan penggunaan wahana udara tanpa awak perlu disosialisasikan kepada masyarakat.
Sahid juga menilai aeromodelling memiliki peluang untuk diperkenalkan di lingkungan pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar, menengah hingga perguruan tinggi.
Menurutnya, pengenalan aeromodelling dapat menjadi sarana pembelajaran yang menarik karena berkaitan dengan teknologi, kreativitas, keterampilan, dan keselamatan penerbangan.
Ia mencontohkan keberadaan Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) di lingkungan perguruan tinggi sebagai salah satu bentuk perkembangan teknologi penerbangan yang dapat mendorong minat generasi muda.
Terkait penggunaan drone, Sahid mengingatkan pentingnya mematuhi ketentuan keselamatan dan pembatasan wilayah penerbangan. Ia menjelaskan bahwa batas ketinggian penerbangan juga bergantung pada jenis dan kegiatan drone yang digunakan.
Untuk kategori Drone Race, ketinggian terbang dibatasi di bawah maksimal 20 meter. Sementara drone jenis FPV maupun yang digunakan untuk fotografi memiliki batas ketinggian maksimal 150 meter, dengan tetap memperhatikan ketentuan wilayah penerbangan dan perizinan yang berlaku.
Ia mencontohkan kawasan sekitar jalur penerbangan di Pekanbaru yang memiliki pembatasan tertentu demi keselamatan penerbangan.
Bagi masyarakat yang ingin menekuni aeromodelling, ia menyebut kegiatan tersebut tidak selalu membutuhkan biaya besar. Pesawat model sederhana bahkan dapat dibuat sendiri menggunakan bahan seperti gabus atau styrofoam.
“Kalau untuk latihan sebenarnya murah. Kita bisa membuat sendiri menggunakan bahan gabus atau styrofoam. Yang dibeli itu mesin, motor penggerak, dan remote-nya. Kalau sekarang punya uang sekitar Rp1,5 juta juga sudah bisa mulai latihan,” jelasnya.
Pengabdian Boleh Berakhir, Kepedulian Tetap Berjalan
Perjalanan H. Sahid Suwarno menjadi gambaran panjang pengabdian seorang pendidik yang tidak hanya berkutat di ruang kelas dan jabatan struktural, tetapi juga berupaya mengembangkan minat serta prestasi generasi muda melalui bidang olahraga dan teknologi.
Setelah 36 tahun lebih mengabdi, ia meninggalkan pesan penting bahwa kemajuan pendidikan tidak boleh hanya diukur dari kecanggihan teknologi, kelengkapan fasilitas, maupun capaian akademik.
Bagi Sahid, guru tetap memiliki peran mendasar dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan dan membentuk karakter peserta didik.
Sebab, teknologi dapat memberikan informasi dan membantu siswa menemukan jawaban, tetapi keteladanan, bimbingan, dan pendidikan karakter tetap membutuhkan peran manusia di dalamnya.**(ian)



