Ketika Infrastruktur Menang, Ketahanan Rakyat Dikorbankan

94 views

TAJUK RENCANA

Oleh Redaksi

ilustrasi

Gelombang bencana alam yang melanda Sumatera Barat dan Sumatera Utara seharusnya menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Provinsi Riau serta pemerintah kabupaten/kota di dalamnya. Meski tidak terdampak langsung secara geografis, Riau merasakan efek paling nyata: melonjaknya harga kebutuhan pokok dan terganggunya pasokan pangan. Ironisnya, di tengah situasi ini, arah pembangunan daerah justru masih bertumpu pada proyek-proyek infrastruktur fisik.

Pola pembangunan yang terlalu bias pada infrastruktur menunjukkan satu persoalan mendasar: ketiadaan sensitivitas terhadap risiko sosial dan krisis pangan. Jalan, gedung, dan kawasan baru memang penting, tetapi ketika rakyat kesulitan membeli beras, cabai, atau minyak goreng, maka prioritas pembangunan patut dipertanyakan.

Bencana di Sumbar dan Sumut membuka fakta yang selama ini diabaikan—Riau sangat bergantung pada daerah lain untuk pasokan pangan. Ketergantungan ini menjadi bom waktu ketika jalur distribusi terganggu. Sayangnya, ketahanan pangan lokal tidak dibangun secara serius. Lahan pertanian terus tergerus, petani tidak mendapatkan perlindungan memadai, dan cadangan pangan daerah nyaris tidak menjadi agenda strategis.

Pemerintah daerah tampak terjebak pada rutinitas APBD: membelanjakan anggaran sesuai pola lama tanpa keberanian melakukan koreksi kebijakan. Infrastruktur terus digenjot, sementara mitigasi krisis pangan, pengendalian inflasi, dan perlindungan daya beli masyarakat berjalan setengah hati. Pembangunan kehilangan rohnya ketika tidak berpihak pada kebutuhan dasar rakyat.

Seharusnya, situasi ini mendorong perubahan arah kebijakan. Ketahanan pangan mesti ditempatkan sebagai prioritas utama, bukan pelengkap. Pemerintah perlu memperkuat produksi pangan lokal, membangun cadangan pangan daerah yang efektif, serta melakukan intervensi pasar secara konsisten dan terukur. Reorientasi anggaran menjadi keharusan, bukan pilihan.

Pembangunan sejatinya bukan tentang seberapa panjang jalan yang dibangun atau seberapa megah gedung yang diresmikan. Pembangunan adalah tentang seberapa kuat rakyat bertahan di tengah krisis. Tanpa ketahanan pangan dan perlindungan sosial, pembangunan infrastruktur hanya akan menjadi monumen kemegahan di atas keresahan rakyat.

Bencana di daerah tetangga telah memberi pelajaran mahal. Pertanyaannya kini, apakah pemerintah daerah Riau mau belajar, atau tetap berjalan di jalur lama hingga krisis berikutnya datang lebih keras?

Posting Terkait