MBG di SDN 008 Tembilahan Hulu Disorot, Ratusan Siswa Terima Alpukat Mentah

10 views

LintasRiauNews.com, Indragiri Hilir — SDN 008 Tembilahan Hulu di Kabupaten Indragiri Hilir menjadi sorotan setelah pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menuai polemik akibat pembagian buah alpukat yang dinilai belum layak konsumsi kepada para siswa.

Pihak sekolah mengakui sebagian besar alpukat yang dibagikan kepada ratusan siswa masih dalam kondisi mentah dan belum bisa dikonsumsi secara langsung. Kepala sekolah, Hamsah, menyebut dari total sekitar 340 penerima manfaat, hanya sebagian kecil buah yang sudah matang.

Menurutnya, persoalan kualitas bahan makanan dalam program MBG bukan kali pertama terjadi. Keluhan terkait kualitas menu disebut sudah beberapa kali disampaikan kepada pihak penyalur, namun perbaikan yang dilakukan belum berjalan konsisten.

Sebagai tindak lanjut, pihak sekolah meminta siswa membawa kembali alpukat yang belum matang untuk dijadikan bahan evaluasi bersama pihak penyedia.

Sementara itu, pihak penyedia makanan melalui Mufti mengakui adanya kendala dalam proses distribusi bahan pangan. Ia menjelaskan bahwa secara prosedur, bahan makanan telah melalui pengawasan tenaga ahli gizi dan standar operasional, namun dalam praktiknya ditemukan kendala pada pasokan dari supplier.

Menurut Mufti, sebagian alpukat yang tampak matang saat diperiksa justru mengalami kerusakan di bagian dalam, sehingga dinilai tidak layak dibagikan. Kondisi itu membuat pihak penyedia mengambil keputusan untuk menyalurkan alpukat yang masih mentah.

Ia juga mengakui faktor keterbatasan waktu distribusi menjadi kendala utama, sehingga buah tidak sempat melalui proses pematangan sebelum disalurkan ke sekolah.

Pihak penyedia memastikan insiden ini menjadi bahan evaluasi serius dan menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah, siswa, dan orang tua. Mereka juga menegaskan penggunaan alpukat dalam menu MBG tidak akan diulang pada distribusi berikutnya.

Kasus ini memunculkan perhatian publik terkait kualitas pengawasan dalam program MBG, terutama menyangkut standar kelayakan pangan yang seharusnya menjadi prioritas utama.

Dengan adanya temuan ratusan siswa menerima buah yang belum bisa dikonsumsi, evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengadaan, pengawasan supplier, hingga mekanisme distribusi dinilai mendesak agar tujuan program pemenuhan gizi anak sekolah benar-benar berjalan optimal.**(daus)

 

 

 

Posting Terkait