
PEKANBARU, LintasRiauNews – Meski tantangan lembaga pendidikan swasta yang semakin kompetitif dan beban biaya operasional terus meningkat, sekolah jenjang SMP di Pekanbaru yang sudah dua dasawarsa usianya ini tetap konsisten menampung dan menggratiskan biaya bagi siswa dari kalangan yatim dan panti asuhan.
SMP IT Dar Al-Ma’arif NU, demikian nama resmi sekolah dalam jaringan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) ini, sejak mulai beroperasional tahun 2005, telah berkomitmen menerapkan pemerataan kesempatan dan layanan pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali dari kalangan kurang mampu, terutama di lingkungan sekitar. Kebijakan pendidikan inklusif ini tetap dijalankan sampai saat ini.

Fatimah Sari
“Sejak awal berdiri hingga sekarang, sekolah kami masih menampung dan dan menggratiskan biaya pendidikan terhadap siswa dari kalangan yatim dan panti asuhan yang ada di lingkungan sekitar. Mulai dari masuk sekolah hingga tamat. Untuk saat ini jumlahnya ada 15 orang,” ungkap Fatimah Sari, SE. Ak, Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, beberapa waktu lalu.
Kendati digratiskan biaya pendidikan, lanjut dia, pihak sekolah yang berlokasi di Jalan KH Ahmad Dahlan, Sukajadi, ini tetap memberikan perhatian dan layanan yang sama terhadap siswa dari kalangan anak yatim dan panti asuhan tersebut.
“Tidak ada dibedakan dengan siswa lain. Justru mereka mendapatkan berbagai keringanan dan bantuan,” terang Fatimah yang juga sebagai guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan literasi di sekolah yang memiliki 12 guru ini.
Ia tidak menampik, kebijakan menggratiskan biaya pendidikan terhadap sebagian siswa cukup berpengaruh dalam memenuhi biaya operasional sekolah yang terus meningkat, sehingga menuntut kemampuan dan kejelian pimpinan sekolah untuk mengatasinya.
“Namun, karena ini sudah jadi kebijakan LP Ma’arif NU, maka kami sebagai pengelola berusaha menjalankan tugas dan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Sejauh ini, Alhamdulillah, masih berjalan baik dan tidak ada kendala,” tuturnya.
Saat ini, SMP IT Dar Al-Ma’arif yang memiliki 110 orang siswa dengan enam rombel yang mencakup kelas VII-IX, masing-masing 2 rombel hanya memberlakukan biaya SPP sebesar Rp 250.000 per siswa. “Itu sudah semuanya, tak ada pembayaran atau pungutan lainnya kepada siswa. Jadi, masih relatif murah dan terjangkau,” jelas Fatimah.
Dengan menerapkan pola pendidikan berbasis Nahdlatul Ulama, SMP IT Dar Al-Ma’arif mengandalkan pendidikan Islam berkualitas yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan teknologi. Selaras dengan kebijakan LP Ma’arif NU yang fokus pada pengembangan SDM yang potensial, dengan menggabungkan kurikulum lokal dengan pendidikan berbasis karakter keagamaan.
“Sekolah kami mengintegrasikan kurikulum nasional dengan nilai-nilai keislaman Aswaja (Ahlu Sunnah wal Jamaah) yang diwujudkan dalam berbagai program sekolah di bidang keagamaan,” kata Fatimah.
Program keagamaan itu, antara lain Hari Berkarakter, Muhadarah, Buka Puasa Bersama, Istighasah dan Mabit (Malam Bina Iman dan Takwa). Sedangkan program yang bersifat umum seperti Pramuka, Keputrian dan Pentas Seni. Siswa juga diajar dan dibimbing untuk berkomunikasi dalam bahasa Arab dan Inggris.
Untuk ekstrakurikuler ada juga bernuansa keagamaan, seperti marawis dan kaligrafi, disamping keterampilan praktis seperti kerajinan tangan (handmade) dan multi media serta bidang olah raga, seperti futsal, karate dan badminton.
“Tim marawis siswa kami cukup menonjol. Cukup sering tampil, selain menyambut tamu, juga aktif dalam pertunjukan seni antarsekolah. Begitu pun bidang olahraga, seperti karate, prestasi siswa kita cukup membanggakan,” terangnya.
Grup Marawis Ruhul Marwah yang terdiri dari 20 siswa itu pernah tampil menyambut kunjungan Wamendikdasmen Fajar Riza Ul ke sekolah ini pada Rabu, 18 Desember 2024 silam dalam rangka kunjungan kerja dan mendengar aspirasi dari berbagai satuan pendidikan di Pekanbaru.
Program Tahfidz
Sebagai sekolah yang berbasis pendidikan Islam, SMP IT Dar Al-Maarif juga sejak awal menjadikan tahfidz (membaca dan menghafal Al-Qur’an) menjadi kegiatan rutin yang melibatkan seluruh anak didik. Program tahfidz ini dilaksanakan di setiap kelas VII-IX, masing-masing selama dua jam dalam seminggu.
“Untuk program tahfidz, pelaksanaannya secara bergilirian di setiap kelas. Kita punya seorang guru tahfidz yang punya kompetensi untuk mengajar dan membimbing siswa membaca dan menghafal Al-Qur’an sesuai kaidah,” ujar Fatimah.
Pihak sekolah tidak menetapkan target hafalan Al Qur-an dengan jumlah tertentu, namun setiap siswa harus mampu membaca dengan lancar minimal seluruh surah di juz 30 dan beberapa ayat di juz 29. “Ada jadwal setor baca surah dan ayat dan setor hafalan bagi setiap siswa untuk menguji kemampuan dan memantau perkembangan mereka,” jelasnya.
Untuk hafalan, Fatimah menyebut sejauh ini cukup banyak siswa yang sudah mampu menghafal 1 juz, yakni juz 30. Sementara untuk 2 juz ke atas hanya ada beberapa siswa. Mereka ini beberapa waktu lalu, tepatnya Senin, (23/02/2026), dapat bantuan mushaf Al-Qur’an baru dari Komunitas Kurnia Wakaf Al-Qur’an (KWQ).
“Diserahkan langsung oleh Pimpinan KWQ, Pak A. Z. Fachri Yasin, selain 2 mushaf Al-Qur’an yang berasal dari pewakaf, diserahkan pula Juz Amma dan Doa-doa Para Nabi & Rasul kepada 13 siswa yang punya hafalan 1 juz,” ungkapnya.
Fatimah menyampaikan terima kasih dan syukur yang mendalam atas bantuan yang disalurkan oleh komunitas KWQ. Menurut dia, ketersediaan mushaf yang layak dan standar akan mempengaruhi semangat dan kenyamanan belajar siswa dalam membaca dan memahami Al-Qur’an.
“Siswa yang dapat Al-Qur’an dan juz Amma tampak gembira bercampur bangga, semoga memotivasi siswa lainnya untuk memperlancar bacaan dan meningkatkan hafalan mereka,” ujarnya.
Untuk Tahun Pelajaran 2026/2026, Fatimah mengatakan SMP IT Ma’arif tetap menerapkan kebijakan sekolah yang inklusif dan mengandalkan program yang berbasis pengetahuan dan pembinaan karakter keislamanan. Dengan visi menjadi “Sekolah Islam Terpadu yang Unggul’ yang diimplementasikan dengan misi: Unggul dalam Akhlak, Unggul dalam Prestasi Akademik dan Unggul dalam Pelayanan.
“Kita tetap menampung dan mengratiskan siswa dari keluarga tak mampu. Untuk biaya masuk, seragam dan uang SPP, memang ada penyesuaian tapi masih tetap terjangkau dan lebih murah dari beberapa sekolah lainnya,” pungkas Fatimah.* (ers)



