Sambut Rezim Bunga Murah

772 views
BANK Indonesia melakukan penurunan BI Rate seiring dengan data perekonomian dan inflasi yang terkendali di awal 2016. Kebijakan Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 7 persen ternyata memberikan konsekuensi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, penurunan suku bunga membuat nilai tukar rupiah tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 


Di sisi lain, keputusan tersebut telah membawa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level tertinggi dalam sejarah. Investor menilai penurunan suku bunga dapat mendorong perekonomian Indonesia. Kemudian bagaimana dampak yang akan diterima oleh Indonesia khususnya dalam bidang makro ekonomi seiring optimisme yang ditampilkan oleh BI melalui kebijakan penurunan tingkat BI Rate.


Seperti diketahui, BI menurunkan suku bunga acuan/BI Rate yang berada di level 7,5 persen sebesar 25 basis poin menjadi 7,25 persen pada 14 Januari 2016. BI pun memberikan sinyal BI Rate dapat kembali turun pada Februari 2016. Hal itu pun terbukti. BI kembali turunkan BI Rate menjadi 7 persen. Bank Indonesia (BI) menegaskan tidak ada intervensi dari pihak manapun dalam penurunan acuan tingkat suku bunga (BI rate) maupun penurunan Giro Wajib Minimum (GWM).


Keputusan tersebut merupakan murni hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara. Keputusan BI menurunkan BI rate melihat ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbuka dengan terjaganya stabilitas makro ekonomi. BI juga mempertimbangkan meredanya ketidakpastian pasar keuangan global setelah kenaikan suku bunga the Federal Reserve.


Berkaca dari pengalaman negara lain, penurunan suku bunga acuan telah dilakukan sebelumnya oleh Jepang. Keputusan BOJ yang merupakan Bank Central Jepang dinilai sebagai upaya melemahkan mata uang Yen terhadap mata uang negara lain.  Pelemahan Yen diharapkan mampu meningkatkan daya saing barang-barang asal Jepang di pasar global. Bila penjualan barang meningkat, perusahaan Jepang akan membukukan peningkatan pendapatan. Alhasil, bursa efek Jepang bakal terlihat sangat seksi. 


Itu sebabnya, indeks saham Nikkei Jepang langsung naik 2.8 persen ke level 17.518,30, akhir pekan lalu, setelah BOJ menetapkan suku bunga negatif. Adrian melihat, investor global akan tertarik masuk bursa Jepang. Sebab, harga saham emiten Jepang akan makin murah akibat depresiasi yen. 


Sektor ekonomi lain juga akan diuntungkan oleh pelemahan yen. “Banyak orang gembira datang ke Jepang karena dana yang dibutuhkan juga semakin murah,” kata Steve Wang, ekonom Reorient Group asal Hongkong, seperti dikutip harian South China Morning Post, Jumat.


Kemudian, bagaimana dengan nasib Indonesia pasca penurunan BI Rate oleh BI. Meski penurunan BI rate tidak akan secara langsung disikapi oleh industri perbankan dengan menurunkan tingkat suku bunga dalam waktu dekat ini. Paling tidak, dampak dari penurunan BI rate itu baru bisa dirasakan dalam kurun waktu 2-3 bulan. 


Penurunan ini dapat dianalogikan dengan dampak yang dialami Jepang berupa masuknya modal asing ke Indonesia melalui bursa saham, peningkatan wisatawan manca negara, peningkatan penyaluran kredit pinjaman karena suku bunga semakin kecil, peningkatan proyek percepatan infrasturktur, dan secara jangka panjang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.


Setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, tentunya akan menghasilkan dampak positif dan negatif. Meski kebijakan penurunan BI Rate berpotensi memberikan tekanan lebih terhadap nilai mata uang Rupiah terhadap Dollar, di sisi lain, banyak hal yang dapat mendorong pergerakan pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju tren positif. 


Dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia, selain penurunan BI Rate, diperlukan percepatan pembangunan infrastruktur penunjang kegiatan ekonomi. Penurunan BI Rate diharapkan dapat memicu peningkatan pinjaman oleh pelaku ekonomi yang akan mendorong bank mengeluarkan pinjaman sehingga ekonomi akan bergerak, dan ujungnya inflasi meningkat. 


Hal ini diharapkan dapat menunjang permodalan dalam kegiatan ekonomi terutama permodalan pada usaha masyarakat berskala menengah sehingga dapat mempercepat pergerakan roda perekonomian Indonesia. 


Oleh karenanya, kita sebagai masyarakat Indonesia dapat menikmati dampak penurunan BI Rate dengan mulai memikirkan ide bisnis dan usaha yang diinginkan serta memperhitungkan permodalan yang didapat dari bank tentunya dengan bunga pinjaman yang tidak terlalu tinggi bagi masyarakat Indonesia. ***


*) Achmad Irfandi, pemerhati masalah ekonomi dan pembangunan. 

Bagikan ke:

Posting Terkait