Nabila, Hafidzah SMKN 1 Pekanbaru Ingin Jadi Ahli Digital Forensik

1 views

Nabila saat dialog dengan Pimpinan KWQ dan ketika menerima mushaf dari pewakaf.

PEKANBARU, LintasRiauNews – Untuk kedua kalinya, Komunitas Kurnia Wakaf Al-Qur’an (KWQ) kembali berbagi Al-Qur’an untuk 14 siswa Tahfidz SMK Negeri 1 Pekanbaru. Nabila, salah seorang hafidzah dengan hafalan tertinggi, yakni 11 juz, mengungkapkan kisahnya yang cukup menarik dan inspiratif, termasuk cita-citanya yang tinggi menjadi ahli digital forensik.

Penyerahan dan pembagian mushaf Al-Qur’an oleh Komunitas KWQ yang bersumber dari sejumlah pewakaf itu digelar sederhana di ruang komite di lantai 2 sekolah yang terletak di Jalan Kinibalu, Rintis, Kecamatan Limapuluh, Senin (4/5/2026). Pada kegiatan tersebut turut hadir salah seorang pewakaf, Yuliatmi, yang merupakan pensiunan ASN Pemprov Riau.

Tadinya, kegiatan itu dilangsungkan di halaman sekolah dan dihadiri segenap siswa, tetapi urung karena bertepatan acara perpisahan siswa kelas XII. Begitupun sang kepsek, Sarvina Yunus, S.Pd, awalnya akan hadir langsung, namun beliau mohon maaf sekaligus izin kepada Pimpinan KWQ karena ada pertemuan via zoom dengan jajaran Kementerian Pendidikan. Ia mendelegasikan kepada Waka Bid. Kesiswaan Tri Noviastuti, S.Pd untuk mewakili.

Waka Bid. Kesiswaan Tri Noviastuti yang didampingi guru agama dan beberapa guru lainnya, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Pimpinan KWQ dan tim atas penyaluran wakaf Al-Qur’an kepada anak didiknya dari kelas Tahfidz.

“Saya sudah berusaha informasikan kepada para guru sekaligus minta data siswa yang memiliki hafalan minimal 2 juz. Awalnya, terdata 12 orang, tapi ternyata ada tambahan 2 siswa lagi. Saya harap, mereka yang belum terdata ini bisa dapat wakaf Al-Qur’an,” ungkapnya.

Tri menyebut bantuan mushaf Al-Qur’an ini sangat dibutuhkan dan bermanfaat sebagai penunjang aktivitas siswa Tahfidz di sekolah. “Manfaat penting lainnya mendatangkan pahala, baik kepada pemberi atau pewakaf, pengurus maupun yang membacanya,” ujarnya.

Justru itu, dia berpesan kepada siswa Tahdidz penerima yang hadir agar memanfaatkan mushaf yang diterima dan dijaga dengan baik. “Jangan disimpan di lemari, tapi gunakanlah dan rajin dibaca, dipelajari dan dihafal,” kata  Tri Noviastuti.

Pimpinan KWQ A. Z. Fachri Yasin mengungkapkan penyaluran wakaf Al-Qur’an untuk siswa sekolah ini merupakan yang kedua kalinya. “Yang pertama itu tahun lalu, ada datanya. Tapi penyerahannya bukan di ruangan seperti ini, melainkan di halaman sekolah dan dihadiri segenap siswa dan guru,” tuturnya.

Dia mengucapkan terima kasih kepada Tri Noviastuti yang mewakili pihak sekolah karena memberikan respons yang cepat dan mudah berkomunikasi terkait data siswa Tahfidz dan jadwal penyerahan, sehingga bisa diselenggarakan dengan baik.

Pimpinan KWQ juga merespons dengan bijak permintaan pihak sekolah terkait revisi data tahfidz yang memiliki hafalan 2 juz. “Silakan tambahkan nama yang belum terdata. Kalau bisa hadir sekarang, kita berikan Al-Qur’an,” katanya.

Fachri menegaskan kehadiran siswa penerima wakaf Al-Qur’an merupakan hal yang krusial, karena pihaknya berkomitmen menyerahkan titipan amanah pewakaf langsung kepada yang berhak. Cukup sering terjadi saat penyerahan ada sebagian yang tidak hadir dengan berbagai alasan.

“Padahal, sudah diberitahu sebelumnya kepada pihak sekolah. Al-Qur’an diserahkan kepada yang hadir saja, bagi yang tidak hadir, walau namanya terdata, tidak diberikan dan Al-Qur’annya dibawa lagi,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Pimpinan Komunitas KWQ juga menjelaskan sekilas tentang mushaf Al-Qur’an yang dibagikan kepada siswa Tahfidz tersebut, yang mana bersumber dari donasi sekian banyak pewakaf yang berasal dari berbagai kalangan dan profesi. Untuk siswa SMKN 1 berasal dari 4 wakif, yakni Karmila Sari, Yuliatmi, Hasarul dan MH.

“Nama pewakaf tertera di sampul mushaf, tapi tidak semua atas nama pribadi, ada yang juga dituliskan atas nama orang tua, istri dan keluarga lainnya, termasuk yang sudah almarhum. Seperti Bu Yuliatmi, berwakaf atas nama pribadi dan cucunya, juga ada dari suami dan anaknya,” terangnya.

Di sampul mushaf juga tertera Kurnia Wakaf Al-Qur’an, bukan nama penerbit tapi adalah  pengelola dan penyalur. Penerbitnya King Salman dan pabriknya di Bandung. “Para pewakaf dan kami sebagai penyalur berharap Al-Qur’an yang diberikan dimanfaatkan dengan baik, jangan disimpan. Semoga tambah semangat sehingga makin rajin membaca dan meningkatkan hafalannya,” ujar Fachri Yasin.

 

Nabila dan Kisahnya

Seperti yang sudah-sudah, Pimpinan Komunitas KWQ A. Z. Fachri Yasin yang juga akademisi senior Riau ini memanfaatkan momentum itu untuk berinteraksi dan berdialog dengan para siswa Tahfidz SMKN 1 sekaligus memberi pencerahan dan motivasi terkait kelanjutan pendidikan dan cita-cita.

“Nah, itu yang berhidung agak mancung, Anda selesai SMK ini mau menyambung ke bangku kuliah atau kerja,” tanyanya spontan sembari menunjuk seorang siswi berparas mungil dan manis yang duduk di tengah barisan siswa di seberang meja.

“Menyambung, Pak. Ke ITB (Institut Teknologi Bandung),” jawab siswi bernama Nabila, kelas X jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, itu dengan lugas.

“Fakultas apa yang dipilih,” tanya Pimpinan KWQ lagi. “Antara Fakultas Astronomi dan Teknik Informatika,” jawab Nabila.

“Hebat. Anda anak ke berapa dan apa pekerjaan orang tua,” lanjut Fachri bertanya. “Saya anak tunggal dan profesi orang tua pedagang, di Pasar Sail,” jawabnya.

“Apakah rencana Anda ini sudah disampaikan ke orang tua?”. Nabila menjawab, “Sudah, Pak,”. Fachri melanjutkan, “Apa responsnya?”. Dijawab lagi, ”Kata ayah, kalau memang itu maunya, sebaiknya siapkan diri,  akan didukung sepenuhnya.”

“Bagus. Jadi, ini penting disadari bahwa yang diperlukan itu ada dulu ditanamkan niat di hati dan rencana di fikiran. Sehingga ada tekad dan upaya  untuk merealisasikannya,” terang Fachri yang masih tetap bersemangat di usia yang akan menginjak 73 tahun ini.

Dari perbincangan sebelum acara dimulai, diketahui Nabila adalah siswa kelas Tahfidz SMKN 1 yang memiliki hafalan tertinggi, yakni 11 juz. Prestasi akademiknya juga membanggakan sebagai juara kelas. Selain ingin menjadi hafidzah, ia juga bercita-cita menjadi ahli digital forensik dengan menimba ilmu di ITB.

Nabila mengaku memilih kelas Tahfidz sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah karena disamping ingin menjadi hafidzah 30 juz sekaligus juga mampu memahami kandungan Al-Qur’an untuk dijadikan pedoman dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya sejak awal masuk SD sudah belajar mengaji. Ayah sangat kuat mendorong dan memotivasi agar saya giat mempelajari dan menghafal Al-Qur’an, karena ia tidak bisa melakukan sepenuhnya karena kesibukan mencari nafkah dan sebagainya. Makanya, saya kemudian bersekolah di SMP Sains Qur’an Pekanbaru” tutur gadis remaja yang ramah dan supel ini.

Nabila juga mengaku untuk mempelajari dan menghafal  Al-Qur’an dirinya lebih suka mushaf dengan metode tajwid dan terjemahan berwarna seperti yang dibagikan oleh Komunitas KWQ ketimbang mushaf standar. “Karena ada petunjuk cara membaca yang benar dah ada terjemahannya, sehingga memudahkan untuk dihafal dan dipahami,” pungkasnya.

Setelah melakukan dialog tanya jawab dengan beberapa siswa Tahfidz lainnya terkait pendidikan dan rencana setamat SMK, Pimpinan KWQ sempat menuturkan kisah lawas BJ Habibie, Presiden RI ke-3, saat bersekolah di Jerman. Beliau yang awalnya tak pernah juara 1 di kelas, selalu kalah dari pelajar berkebangsaan Yahudi, akhirnya bisa jadi pemuncak.

“Itu terjadi setelah beliau giat membaca dan mempelajari Al-Qur’an di tengah malam. Ini bukti dengan membersamai Al-Qur’an akan bertambah kecerdasan. Fakta lainnya, mereka yang aktif di Tahfidz juga memiliki akhlak yang baik, seperti lebih sopan dan sebagainya, dibanding yang tidak,” pungkas Fachri Yasin.

Sebagai wujud terima kasih dan apresiasi atas penyaluran wakaf Al-Qur’an tersebut, pihak sekolah memberikan piagam penghargaan yang diserahkan oleh Waka Bid. Kesiswaan Tri Noviastuti kepada Pimpinan KWQ. Dilanjutkan, dengan penyerahan mushaf kepada masing-masing siswa penerima.

Saat penyerahan mushaf yang dilakukan secara bersama-sama, diawali Pimpinan KWQ, pewakaf, kemudian pimpinan sekolah dan guru, tercipta suasana gembira dan akrab. Raut bahagia bercampur haru tampak jelas di wajah para siswa saat menerima mushaf.  Acara pun diakhiri foto bersama.

Sebagai informasi tambahan, di hari yang sama pada paginya, Komunitas KWQ menyerahkan wakaf 26 mushaf Al-Qur’an kepada Tahfidz di SMAN 9, yang masih satu kawasan dengan SMKN 1. Selanjutnya, diagendakan Kamis (7/5/2026) penyerahan wakaf Al-Qur’an untuk 18 siswa tahfidz SMPN 13 Pekanbaru.* (ers) 

Penyerahan piagam kepada KWQ dari pihak sekolah dan foto bersama.

Posting Terkait