LintasRiauNews.com ,KAMPAR — Di tengah gegap gempita perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ada cerita perjuangan yang mungkin jarang terlihat dari pusat kota. Bukan perjuangan mengangkat senjata, tetapi perjuangan para guru yang setiap pagi meninggalkan rumah, menempuh puluhan kilometer, melewati hamparan kebun sawit, menghadapi panas dan hujan, demi satu tujuan: memastikan anak-anak di daerah pinggiran tetap mendapatkan pendidikan terbaik.
Kisah itu datang dari SMA Negeri 1 Rumbio Jaya, sebuah sekolah yang berada di kawasan transmigrasi. Jarak sekolah yang mencapai sekitar 50 hingga 60 kilometer dari pusat pemerintahan kabupaten maupun akses menuju Dinas Pendidikan Provinsi Riau tidak membuat semangat para guru surut.
Di sekolah tersebut, sejumlah guru bahkan harus melakukan perjalanan dari Pekanbaru dan Bangkinang untuk menjalankan tugas. Jalan yang sebagian telah beraspal memang membuat akses lebih mudah, meski di beberapa titik masih terdapat lubang. Namun, bagi para guru, kondisi tersebut bukan alasan untuk mengurangi pengabdian.
Kepala SMA Negeri 1 Rumbio Jaya, Ritawati Tanjung, yang telah memimpin sekolah tersebut sejak 6 Oktober 2023 dan akan genap tiga tahun pada 6 Oktober 2026, memahami betul bagaimana perjuangan para guru di sekolah yang kini memiliki sekitar 450 siswa tersebut.
“Kami memang jauh, tetapi kami tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Bapak dan ibu guru tetap semangat memberikan pembelajaran, sekaligus berusaha mengubah dan membentuk karakter anak-anak menjadi lebih baik,” ujar Ritawati.
Hujan dan Kemarau Tak Menghentikan Langkah Guru
Bagi sebagian orang, hujan mungkin menjadi alasan untuk menunda perjalanan. Tetapi bagi guru dan siswa SMA Negeri 1 Rumbio Jaya, hujan hanya bagian dari perjalanan menuju sekolah.
Begitu pula ketika musim kemarau datang. Proses belajar tetap berjalan. Anak-anak tetap datang ke sekolah dan para guru tetap berdiri di depan kelas.
“Musim hujan dan kemarau tetap kami jalani. Anak-anak tetap sekolah, guru juga tetap mengajar. Kalau hujan, paling banyak yang agak terlambat karena kondisi perjalanan. Tetapi itu tidak terlalu berpengaruh terhadap semangat kami untuk belajar dan mengajar,” katanya.
Di tengah keterbatasan geografis tersebut, SMA Negeri 1 Rumbio Jaya justru memiliki akses jaringan internet yang cukup baik. Hal ini menjadi modal penting bagi guru dan siswa untuk mengikuti perkembangan pembelajaran di era digital.
Bagi Ritawati, keberadaan sekolah di daerah pinggiran bukan berarti kualitas pendidikan harus berada di pinggir pula.
Anak-anak di Rumbio Jaya berhak memiliki mimpi yang sama besarnya dengan anak-anak di kota.
Guru Datang dari Jauh, Demi Anak-Anak Rumbio Jaya
Ada sisi lain yang membuat perjuangan itu terasa semakin bermakna. Sebagian guru tidak tinggal di sekitar sekolah. Mereka datang dari Pekanbaru maupun Bangkinang.
Setiap hari mereka menempuh perjalanan menuju sekolah, lalu kembali ke rumah setelah tugas mengajar selesai.
Mungkin tidak selalu terlihat. Tidak pula selalu terdengar. Namun dari perjalanan panjang itulah, ilmu dibawa ke ruang-ruang kelas dan harapan ditanamkan kepada ratusan anak.
“Kami ingin anak-anak mendapatkan yang terbaik. Walaupun sekolah kami berada di daerah transmigrasi dan cukup jauh, hubungan guru dengan orang tua serta masyarakat sangat baik. Kekompakan guru juga terus kami jaga, karena pendidikan ini tidak bisa dilakukan sendiri,” ungkap Ritawati.
Menurutnya, pendidikan bukan hanya tentang nilai yang tertulis di rapor. Lebih dari itu, guru memiliki tanggung jawab untuk membentuk karakter dan menanamkan rasa cinta kepada daerah, budaya dan tanah air.
Mengajarkan Anak Mencintai Tanah Kelahirannya
Di tengah derasnya perubahan zaman, Ritawati ingin generasi muda Rumbio Jaya tidak kehilangan akar budayanya.
Ia ingin anak-anak mengenal dan mencintai daerahnya sendiri. Salah satunya melalui pengenalan budaya Melayu, mulai dari simbol-simbol budaya hingga peninggalan sejarah Melayu.
Baginya, pendidikan tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas.
Pembelajaran di luar sekolah juga menjadi bagian penting untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik. Namun, di sinilah terkadang muncul dilema bagi guru.
Ritawati mengaku, kegiatan pembelajaran di luar sekolah terkadang dipersepsikan sebagian pihak sebagai kegiatan darmawisata, terlebih jika menyangkut pembiayaan atau sumbangan kegiatan.
Padahal, menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran dan tidak dibiayai menggunakan dana BOS.
“Ini terkadang menjadi dilema bagi kami sebagai guru. Di satu sisi kita ingin menjalankan pembelajaran sesuai semangat Kurikulum Merdeka, termasuk memberikan pengalaman belajar di luar sekolah. Tetapi di sisi lain ada kekhawatiran kegiatan itu dianggap hanya darmawisata, apalagi ketika menyangkut biaya kegiatan. Padahal pembelajaran di luar sekolah memiliki tujuan pendidikan, bukan sekadar jalan-jalan,” jelasnya.
Karena itu, menurut Ritawati, diperlukan komunikasi dan kesepakatan bersama dengan orang tua agar setiap kegiatan pembelajaran dapat dipahami secara utuh dan tidak menimbulkan persepsi negatif.
Kemerdekaan Bukan Hanya Dirayakan, Tetapi Dihidupkan di Sekolah
Memasuki HUT RI ke-81, Ritawati melihat kemerdekaan sebagai momentum untuk kembali mengingatkan seluruh insan pendidikan bahwa perjuangan belum selesai.
Jika dahulu para pahlawan berjuang merebut kemerdekaan, maka tugas generasi sekarang adalah mengisinya dengan pendidikan, karya, karakter dan pengabdian.
“Merdeka Belajar, Merdeka Berkarya, Merdeka Mengabdi. Dari pendidikan hari ini, kita bangun Indonesia yang maju, berkarakter dan bermartabat,” tuturnya.
Ia ingin semangat kemerdekaan tidak berhenti pada pengibaran bendera dan upacara. Semangat itu harus hidup di ruang kelas, di tengah guru yang mengajar, di antara siswa yang belajar dan dalam setiap langkah orang tua yang mendukung pendidikan anak-anaknya.
Melalui momentum HUT RI ke-81, Ritawati mengajak para guru untuk tidak pernah merasa kecil karena mengabdi di daerah yang jauh dari pusat kota.
Sebab, boleh jadi sekolah mereka berada di pinggiran, tetapi mimpi anak-anaknya tidak boleh berada di pinggir.
“Mari kita bangkitkan semangat generasi muda untuk mencintai tanah air sekaligus mencintai budayanya. Mereka adalah generasi yang akan melanjutkan perjuangan bangsa. Tugas kita adalah membekali mereka dengan ilmu, karakter dan rasa cinta terhadap negeri ini,” pungkasnya.
Dan mungkin, begitulah wajah kemerdekaan dari Rumbio Jaya.
Tidak selalu hadir dalam sorotan. Tidak selalu terdengar gemuruhnya.
Tetapi setiap pagi, ketika guru berangkat dari Pekanbaru dan Bangkinang, ketika kendaraan melintasi hamparan kebun sawit, ketika hujan membuat perjalanan sedikit lebih lambat, dan ketika seorang guru akhirnya berdiri di depan kelas, di sanalah kemerdekaan sedang diisi dengan ilmu, ketulusan dan pengabdian.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Dari sekolah di pinggiran, untuk Indonesia yang lebih maju.



