Model Teror Pasca Perancis

800 views
SASARAN teror ISIS dikelompokkan dalam “far enemies” dan “near enemies”. Far enemies adalah negara-negara musuh yang dianggap sering melecehkan Islam dan menindas negara Islam seperti Belgia, Turki, Perancis, Singapura, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Australia dll.

Sedangkan near enemies adalah negara-negara musuh ISIS terutama negara Islam yang dinilai mereka tidak menjalankan syariat Islam dan tidak setuju dengan sistem Khalifah Islamiyah antara lain Irak, Suriah, Malaysia, Indonesia, Pakistan dll.

Mengacu kepada dua jenis sasaran serangan teror, tidak   mengherankan jika sekarang ini ISIS dan jaringan teror lainnya melakukan serangan secara acak. Mereka hanya menunggu negara-negara yang akan diserang lengah atau tidak.
ISIS dan simpatisannya dalam bentuk “lone wolf” sedang mengimplementasikan teori balon akibat terdesaknya ISIS di Suriah membuat kelompok ISIS tercerai berai.

Untuk dapat menjaga moral para simpatisan dan demi kepentingan ideologis (dan ekonomis) tentu perlu menjaga eksistensi kelompok. Salah satunya adalah melakukan aksi bunuh diri dan tentu saja bukan di Suriah. Teori balon sedang terjadi, ISIS ditekan di Suriah dan dampaknya akan mengembang di tempat lain.

Selain dua jenis musuh yang menjadi sasaran teror, semakin kalut dan ngawurnya ISIS melakukan serangan juga ditujukan untuk menutupi sejumlah kekalahannya di area peperangan, termasuk sebagai bentuk balas dendam mereka yang dipicu karena ISIS yang mendeklarasikan kekhalifahannya di sejumlah wilayah Suriah dan Irak sejak tahun 2014, mulai kehilangan wilayah setelah mengalami kekalahan akibat serangan udara koalisi pimpinan Amerika Serikat. Tahun 2015, kekhalifahan ISIS menyusut sebesar 12.800 kilometer persegi, menjadi 78 ribu kilometer persegi, atau kehilangan 14 persen (wilayahnya).

Dalam enam bulan pertama tahun 2016, wilayah mereka menyusut lagi sebesar 12 persen. Hingga 4 Juli 2016, ISIS menguasai setidaknya 68.300 kilometer persegi wilayah di Irak dan Suriah. Pendapatan ISIS terus mengalami penurunan. Dari sekitar US$ 80 juta pada pertengahan tahun 2015, turun menjadi menjadi hanya US$ 56 juta pada Maret 2016.


Serangan teror tanggal 14 Juli 2016 di Promenade des Anglais, Nice, Perancis yang dikemudikan warga negara Perancis keturunan Tunisia, menabrak kerumunan orang yang sedang merayakan pesta kembang api. Kejadian tersebut menelan korban sebanyak 84 orang dan puluhan lainnya dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis.

Hasil temuan pejabat setempat menyebutkan bahwa di dalam truk tersebut terdapat banyak senjata api dan bom berkekuatan 1 ton yang gagal meledak. Sebelumnya, pada 13 November 2015, di Bataclan, Perancis melalui serangan bersenjata dan tiga aksi bunuh diri, tercatat 129 orang tewas dan ratusan lainnya luka.

Kelompok ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Perancis diserang karena dianggap terlibat dalam perang saudara Suriah dan Irak serta sering melecehkan Islam.

Ada beberapa pesan yang ingin disampaikan ISIS melalui serangan terbaruntya di Nice, Perancis antara lain : pertama, ISIS menunjukkan bahwa jaringan mereka diseluruh dunia siap melakukan “counter attack”. Kedua, anggota dan simpatisan ISIS di belahan dunia ini masih sangat setia untuk menjalankan tugasnya sebagai “pengantin” artinya pola komunikasi ISIS secara internasional masih berjalan lancar. Ketiga, “lone wolves” yang beraliansi dengan ISIS memiliki militansi yang sangat kuat.

Keempat, serangan teror di Nice juga merupakan “pembelajaran secara tidak langsung” kepada seluruh jaringan teror ISIS untuk “kreatif” mencari pola-pola baru serangan teror yang tidak mudah terdeteksi aparat negara. Kelima, serangan teror di Nice, Perancis menunjukkan bahwa jajaran aparat keamanan dan aparat intelijen yang pernah diserang oleh ISIS tidak memiliki “orang dalam” dalam tubuh organisasi teror tersebut.

Bagaimana Indonesia?

Keinginan dan dorongan kelompok radikal untuk melakukan teror di Indonesia masih cukup tinggi. Terdesaknya kelompok ISIS di Suriah dan kelompok simnpatisan ISIS di Indonesia di Poso membuat organisasi radikal terurai. ISIS tetap ingin menunjukkan eksistensinya.

Hal ini diwujudkan dengan melakukan aksi-aski teror di wilayah selain Suriah, dan untuk kelompok di Indonesia selain di Poso yang selama ini menjadi daerah latihan dan persembunyian. Terurainya kelonpok radikal ini membuat para simpatisan bisa bergerak dalam kelompok kecil bahkan perorangan.

Dorongan dari juru bicara ISIS Abu Muhamad Al Adnani  kepada simpatisannya untuk melakukan aksi menjadi pendorong simpatisan untuk melakukan teror. Kepentingan untuk dianggap berjasa dan menunjukkan peran dan pengaruh mendorong simpatisan kelompok radikal melakukan aksi yang bisa terdengar oleh petinggi ISIS di Suriah.

Dalam skala nasional, teori balon juga terjadi di Indonesia. Kelompok radikal yang terkonsentrasi di Poso terdesak oleh operasi gabungan Polri dan TNI. Kelompok ini menyingkir ke Bima, namun tetap dikejar. Akhirnya kelompok radikal ini menyebar ke berbagai daerah termasuk Surabaya dan terkahir di Surakarta yang telah melakukan aksi bom bunuh diri yang diperkirakan ada kaitan dengan aksi bunuh di Bagdad, Madina, Jedah, Dhaka, Istanbul dan tempat lainnya yang dipicu oleh perintah dari petinggi ISIS, Abu Muhamad Al Adnani (juru bicara),   kepada simpatisannya untuk melakukan aksi pada bulan Ramadhan dan sesudahnya.

Serangan bom Thamrin 14 Januari 2016 diperkirakan mengadopsi aksi teror di Paris 13 November 2015. Gaya teror di Indonesia yang biasanya menggunakan bom bunuh diri berubah menjadi aksi serangan bersenjata. Teror di Paris diakui sebagai aksi ISIS.

Demikian pula aksi teror Thamrin 14 Januari 2016 adalah bagian dari aksi ISIS yang dipandu oleh Bahrun Naim di Suriah yang berasal dari Indonesia. Serangan teror lanjutan yang terjadi di Mapolresta Surakarta yang dilakukan oleh Nur Rohman pada tanggal 5 Juli 2016 diindikasikan juga bagian dari aksi kelompok simpatisan ISIS mengingat ada indikasi jaringan Nur Ruhman dan Bahrun Naim di Suriah.

Ada beberapa kemungkinan bentuk serangan teror di Indonesia pasca serangan di Nice, Perancis yaitu : pertama, model serangan bersenjata secara langsung seperti di Paris akan diadopsi bentuknya namun dengan kekuatan dan peralatan yang berbeda. Pengawasan senjata api yang cukup ketat perlu diterapkan di Indonesia.

Kedua, aksi teror terbaru di Perancis dengan menggunakan sarana kendaraan yang menabrak kerumunan, dilihat dari keberhasilan aksi teror, cukup sukses. Aksi ini juga lebih murah dan cenderung lebih aman karena akan sulit untuk dideteksi. Murah karena peralatan yang digunakan dijual bebas, dan cukup aman karena peralatan yang digunakan bukan suatu larangan. Sasaran teror juga cukup mudah dicari seperti kerumunan orang.
Ketiga, aksi teror memanfaatkan situasi kemacetan lalu lintas di beberapa daerah. Keempat, aksi teror melalui serangan internet atau serangan teror menggunakan keahlian teknologi lainnya dengan tujuan mengacaukan sistem ekonomi, sistem bank, pencurian data penting/rahasia dll.

Kelima, serangan-serangan teror model lama seperti hijacking, bom bunuh diri, penyergapan, penyerangan ke kantor-kantor Polisi, penculikan VIP dan VVIP dll juga masih akan dilakukan, menunggu kelengahan kita saja.
Oleh karena itu, menghadapi ancaman serangan teror maka kecerdasan pikiran untuk mengedepankan solusi secara soft approach dan hard approach dengan mencermati dinamika yang dilakukan kelompok teror, dan kita mengcounter atau menghantam mereka di saat yang tepat, akan menentukan kita atau kelompok teror yang akan eksis.

Baik kita atau kelompok teror, sama-sama tidak mengetahui “jam D” serangan dari lawan akan terjadi, namun kelompok teror memiliki banyak circuumstances untuk melakukan serangannya. ***

*) Wildan Nasution, pemerhati masalah Polkam dan current issues. Tinggal di Jakarta.


Bagikan ke:

Posting Terkait