Tinggal di Gubuk, Putus Sekolah dan Makan dari Uluran Tetangga

1109 views

[] Kisah Pilu 2 Bocah Yatim di Bangkinang:

Dua-beradik-yang-berumah-gubuk-di-Bangkinang.

BANGKINANG KOTA (lintasriaunews) – Malang nian nasib dua bocah lelaki adik beradik ini. Mereka tak bisa menikmati masa anak-anak dan remaja yang ceria dan indah seperti yang lainnya. Di usia yang masih belia, keduanya justru sudah menanggung derita diterpa kenyataan hidup yang keras.

Bayangkan, hidup tanpa orangtua dan tinggal di rumah gubuk dengan tidak ditopang bekal memadai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Begitulah nasib yang harus dilakoni Wendi (14) dan Efrizal (10), dua bersaudara yang bertempat tinggal di Jalan Abdul Mutalib, Kelurahan Langgini, Kecamatan Bangkinang Kota, ini.

Kehidupan dua bocah ini memang sungguh memilukan dan membuat prihatin. Mereka tak lagi punya gantungan hidup setelah ditinggalkan pergi kedua orangtuanya. Sang ayah meninggal, sedangkan ibunya kawin lagi dan ikut bersama suami barunya

Kepergian sang ayah, disusul oleh ibu mereka, tanpa mewariskan apa-apa. Pondok amat sederhana dengan peralatan rumah seadanya dimana keduanya tinggal merupakan peninggalan sang nenek Alhasil, kedua anak yatim ini hidup dalam kepapaan.

“Kami terpaksa tinggal di rumah peninggalan nenek semenjak ayah meninggal, sementara ibu hingga saat ini tidak tau keberadaannya karena bersuami baru,” tutur Wendi, seperti dilansir situs topriau.com, baru-baru ini.

Dua kakak adik malang ini juga terpaksa berhenti sekolah karena tak punya uang dan tak ada yang membiayai. Bahkan, untuk bisa menyambung hidup saja mereka pun harus bekerja serabutan.

“Sudah satu tahun ini saya berhenti sekolah karena tidak ada biaya,” ujar Wendi dengan nada lirih.

Wendi mengungkapkan untuk biaya hidup sehari-hari, belakangan ini dia bekerja membantu memasang tenda bagi warga yang memerlukan. Selain upah yang diterima tak banyak, kerjanya juga tak rutin. Jika tak ada order, tak jarang untuk kebutuhan makan dan minum mereka mengharap uluran dan belas kasihan para tetangga.

Rumah gubuk yang ditempati kedua bocah bersaudara ini terlihgat menyedihkan. Betapa tidak, dinding rumah yang terbuat dari papan sudah lapuk dimakan usia, banyak yang bolong. Atap seng rumah mereka juga sudah berkarat dan rapuh..

Kondisi rumah tempat tinggal mereka yang sudah reot demikian membuat dua beradik ini kian nelangsa. Jka hujan datang, Wendi menyebut rasa dingin tak mampu mereka bendung.

Sementara kasus yang dipakai untuk alas tidur mereka juga kondisinya tak kalah memprihatinkan. Banyak yang robek sehiingga kapasnya bersembulan keluar.

Peralatan dapur dan untuk makan minum yang dimiliki juga minim dan sederhana. Hanya ada sebuah kompor minyak tanah dan beberapa buah piring serta gelas.

Gubuk yang ditempati dua bersaudara ini berbatasan langsung dengan dinding rumah milik tetangga. Untuk menuju rumah kedua bocah malang ini, harus melalui samping rumah warga.

Meski rumah gubuk yang dihuni kedua anak yatim ini berada termasuk di tengah kota, kehidupan mereka yang memprihatinkan luput dari perhatian jajaran pemerintah. Ironisnya lagi, mereka sedikitpun tidak tersentuh oleh bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kampar yang selama ini gencar mendegungkan program zero kemiskinan dan zero rumah rumah kumuh.

Kehidupan memilukan yang dialami dua bocah bersaudara tersebut merupakan realita sekaligus potret buram di negeri yang dikenal dengan julukan ‘Serambi Mekah’ ini. Mudah-mudahan saja, kisah kedua bocah malang ini bisa menggugah jajaran pemerintah dan kalangan dermawan menaruh perhtaian dan mengulurkan bantuan. [] red007

Bagikan ke:

Posting Terkait