Ketika Suara Perempuan Tak Lagi Didengar: Jangan Kecewakan Mereka yang Mengantar Kekuasaan

62 views

 

 

TAJUK RENCANA

Oleh Redaksi

Pilkada telah usai, jabatan telah diraih, dan kekuasaan kini berada di tangan para kepala daerah terpilih. Namun demokrasi tidak berhenti pada kemenangan. Justru di situlah ujian sesungguhnya dimulai: apakah suara rakyat terutama perempuan tetap didengar, atau justru dilupakan?

Dalam setiap Pilkada, perempuan memegang peran yang sangat menentukan. Mereka bukan sekadar pemilih, tetapi penggerak utama. Ibu-ibu hadir di garis depan kampanye, menyebarkan pesan, menjaga semangat, dan mengantar kepercayaan publik hingga kandidat mencapai puncak kekuasaan. Tanpa mereka, kemenangan sering kali hanya menjadi angan.

Namun realitas pasca Pilkada kerap berbanding terbalik

Suara perempuan perlahan menghilang dari ruang kebijakan. Aspirasi yang dulu dirangkul kini terasa asing. Pemerintahan daerah lebih sibuk mendengar kolega, tim inti, kerabat, dan lingkaran kepentingan, sementara para ibu yang dulu berjuang dengan tulus justru menjadi penonton di rumah mereka sendiri.

Inilah ironi demokrasi lokal:

perempuan dibutuhkan saat berjuang,

namun dilupakan saat kekuasaan telah aman.

Lebih menyedihkan lagi, kekecewaan perempuan jarang diekspresikan dengan kemarahan. Mereka memilih diam. Diam yang bukan berarti menerima, melainkan lelah karena tak lagi didengar. Luka itu tidak terlihat, tapi nyata dan dalam jangka panjang bisa berubah menjadi hilangnya kepercayaan publik.

Padahal, kekuasaan sejati tidak hanya diukur dari legalitas jabatan, tetapi dari legitimasi moral. Kepala daerah boleh sah secara hukum, tetapi akan rapuh bila kehilangan kepercayaan rakyat yang dahulu mengantarkannya.

Di sinilah pesan moral itu perlu ditegaskan.

Jangan pernah meremehkan mereka yang datang dengan ketulusan. Jangan mengabaikan suara perempuan yang dahulu mengetuk pintu – pintu rumah demi kemenangan. Jangan kecewakan ibu-ibu yang berharap perubahan, bukan imbalan jabatan.

Sebab kita tidak pernah tahu,

doa siapa yang mengantarkan seseorang sampai ke puncak kekuasaan,

dan doa siapa pula yang bisa membuatnya jatuh dan hancur di tengah jalan memimpin.

Kekuasaan yang melupakan akar dukungannya adalah kekuasaan yang sedang menggali jarak dengan rakyatnya sendiri. Dan sejarah telah berkali – kali mengajarkan: pemimpin yang menutup telinga dari suara tulus rakyat, cepat atau lambat akan kehilangan pijakan moralnya.

Maka, selama masih ada waktu, kembalilah mendengar.

Libatkan kembali perempuan dalam arah kebijakan.

Buka ruang dialog, bukan hanya untuk kolega, tetapi untuk mereka yang dahulu mengantar pangkat dan kedudukan ke tempat tertinggi.

Karena kekuasaan sejati bukan soal siapa yang paling dekat dengan pemimpin,melainkan siapa yang tidak dikhianati oleh pemimpin.

 

Posting Terkait