Generasi Muda Harus Tanggap Hadapi Bahaya Laten Komunisme

756 views
NEGARA Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan yang terdiri dari hampir 17.845 pulau, terbentang dari Sabang sampai Merauke. Menjadi negara kepulauan terbesar sekaligus negara dengan penduduk terbesar ke 4 dunia menjadikan Indonesia sebagai pusat perdagangan dan industri, baik melalui darat, laut, maupun udara. Posisi sentral inilah yang membuat negara lain ingin menjalin hubungan kerjasama dengan Indonesia.

Melihat potensi alam dan padatnya penduduk, membuat pihak asing berpikir bahwa Indonesia adalah negara yang potensial untuk masuknya barang-barang impor. Kondisi ini yang selanjutnya membuat kepentingan-kepentingan asing mudah masuk dan menggerogoti bangsa Indonesia. Salah satu kepentingan tersebut adalah tentang ideologi, yaitu komunisme. Lantas, apakah yang membuat bangsa ini tetap bertahan dari gempuran kepentingan asing dan bahaya laten komunisme?

Komunisme merupakan ideologi hasil buah pemikiran Karl Max dan dipublikasikan pertama kali pada 21 Februari 1848. Ideologi ini merupakan koreksi untuk paham kapitalisme di awal abad 19, di mana kaum buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari produksi yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi.

Seperti kita ketahui, munculnya komunisme di Indonesia tidak terlepas dari orang-orang buangan politik dari Belanda dan lulusan mahasiswa-mahasiwa yang berpandangan kiri. Pergerakan komunis di Indonesia berawal di Surabaya, yaitu ketika terjadi diskusi intern antar pekerja buruh kereta api Surabaya dan salah satu anggotanya adalah Semaoen.

Marilah kita menoleh ke belakang barang sejenak saja. Tepatnya pada tahun 1922, Snevliet tokoh Belanda yang menyebarkan ajaran Komunis ekstrim untuk membelah bangsa ini pada jaman kolonal, sehingga putra terbaik bangsa kita Otto Iskandar Dinata menjadi korban. Geliat tajam terjadi, yaitu penusukan dari belakang oleh PKI pada tahun 1948.

Saat bangsa ini mempertahankan kemerdekaan dari agresi Belanda, sudah barang tentu mereka akan mengusir penjajah dari bumi tercinta, tetapi PKI justru bertindak licik. PKI yang dipimpin oleh Muso telah bersikap biadab merenggut gubernur Jawa Timur pertama, Raden Mas Suryo, beliau gugur di Ngawi.

Gejolak datang kembali menghempas bangsa ini yang didalangi oleh PKI, yaitu Gerakan 30 September 1965. Gerakan tersebut kita kenal dengan G 30 S/PKI. Mereka menculik dan membunuh para jenderal serta melakukan kudeta, bahkan rakyat jelatapun porak-poranda menjadi korban sistim pada waktu itu.

Sangat jelas pola bahaya laten komunis jaman sejarah selalu melakukan kudeta kekuasaan, baik melalui jalur peneroran, penculikan dan pembunuhan. Cara ini mudah diamati dan sudah kuno. Tetapi cara sekarang sangat berbeda. Mereka akan menggunakan unsur kebobrokan mental rakyat dan generasi muda dengan memberi doktrin, antara lain, pertama mosi tidak percaya pada elemen eksekutif, legeslatif, atau yudikatif, kedua, memberikan dan menebarkan berbagai berita melalui situs internet, handphone atau media lain dengan cara atau menyisipi berbagai adegan yang merusak moral, dan ketiga, menjadi provokator, cara ini dianggap aman karena mereka ingin mengorbankan rakyat yang tidak tahu sebagai korban.

Globalisasi menjadi salah satu alasan perubahan pola dan tingkat bahaya laten komunis. Kita mengetahui bahwa masih ada beberapa negara penganut sistem komunis, misalnya Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Korea Utara, dan Venezuela. Ada kemungkinan bahaya laten komunis untuk Indonesia di tahun yang akan datang berasal dari beberapa aspek.

Aspek yang paling menonjol adalah aspek ekonomi dan sosial. Oleh sebab itu, sebagai generasi muda Indonesia yang tulen kita harus tanggap permasalahan yang muncul di sekitar kita dan dikaji dengan Pancasila serta norma agama. Jika ada sesuatu yang telah berseberangan dengan Pancasila dan norma agama jelas ada indikasi bahwa laten komunis telah menyusup. 

Jadi, mengapa bangsa Indonesia yang beragam ini masih bisa bersatu dalam menghadapi bahaya laten komunis? Jawabannya adalah Pancasila. Pancasila merupakan salah satu ideologi terbaik di dunia, hal ini dibuktikan dari pencaplokan nilai-nilai di dalam Pancasila oleh negara lain, seperti Jerman.

Mereka menerapkan nilai-nilai Pancasila dengan memodifikasi untuk selanjutnya diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara rakyat Jerman. Komunisme berbahaya bagi ideologi negeri kita yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Komunisme hanya memandang hal-hal yang rasional dan nyata atau materiil saja.

Dengan begitu mereka hanya memandang agama sebagai candu yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran yang rasional dan nyata, sehingga komunisme sangatlah membatasi agama pada rakyatnya bahkan orang-orang dengan paham komunis cenderung tidak beragama. Hal ini tentu saja sangat berlainan dengan paham ideologi Pancasila.

Pancasila mengajarkan penghargaan atas manusia sebagai pribadi. Manusia dihormati karena kodratnya sebagai manusia. Manusia adalah makhluk yang berbudaya. Padanya terdapat budi yang luhur, yang bersedia memperlakukan orang lain dengan kasih sayang.

Demokrasi Pancasila mengajarkan prinsip musyawarah dalam pengambilan keputusan, meski mungkin harus dengan pemungutan suara, karena tidak tercapainya mufakat. Dalam usaha meningkatkan keadilan sosial, Pancasila bukan saja memperbolehkan, tetapi malahan mendorong, individu berperan secara proaktif dalam proses produksi. Maka, banyak perusahaan yang dimiliki oleh individu didirikan. Pancasila tidak hanya mengajarkan kebahagiaan material, tetapi juga batin.

Jadi, memburu mutu kehidupan yang berimbang: kebahagiaan dan ketenteraman lahir batin. Dengan mencermati ciri-ciri itu sudah dengan sendirinya tampak adanya pertentangan antara dasar filsafat dan ideologi Pancasila dengan komunisme. Jadi, antara Pancasila dan komunisme tidak mungkin dipersekutukan. Itu ibaratnya minyak dan air.

Dengan menerapkan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam Pancasila maka bangsa Indonesia secara perlahan-lahan akan mampu menangkis segala ancaman yang muncul dari bahaya laten komunis. Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara merupakan pedoman hidup dan bernegara bangsa ini. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya merupakan representatif dari segala aspek kehidupan di negeri heterogen ini.

Kebebasan beragama, berpendapat, mendapatkan pendidikan yang layak dan lain-lain adalah nilai luhur yang ditawarkan Pancasila. Jika komunis diterapkan di Indonesia maka kekuasaan sepenuhnya berada di tangan negara sehingga membuat penduduk atau warga negara tidak bisa berkembang. Karena mereka akan merasa terkekang dan dikontrol ketika akan melakukan sesuatu sudah pastilah, bahwa tidak ada idelogi yang mampu menandingi kesaktian Pancasila. Tidak ada ideologi selain Pancasila yang pantas diterapkan di negara Indonesia yang heterogen ini.

Sebenarnya sungguh berat beban yang harus dipikul oleh generasi muda Indonesia dalam menghadapi bahaya laten komunis di era globalisasi, karena paham ini terus berkembang dengan berbagai cara dan metode.

Tetapi kita harus yakin senjata persatuan dan kesatuan kita cukup ampuh ditopang dengan Pancasila sebagai dasar negara dan doktrin kita yang tak akan pernah legam, bahwa NKRI adalah harga mati.

Dengan cara itu, pastilah generasi muda Indonesia mampu menanggulangi dan mengikis habis bahaya laten komunis di negara ini.

Setelah kita mencermati runtutan segelumit uraian penulis tadi, sangat jelas dan nyata bahwa paham komunisme dikatakan laten yaitu bahaya yang dapat muncul pada waktu yang tidak dapat diduga. Kita sebagai masyarakat Indonesia yang tinggal di era reformasi, tidak mau mengulang beberapa tragedi yang memilukan itu.

Kita adalah mata tombak kokohnya negeri ini, bukan hanya TNI, polisi, intelijen, pejabat negara atau pegawai negeri yang harus berperan aktif dalam mengantisipasi bahaya laten, tetapi kita (bangsa Indonesia yang bersatu).
Kita yang harus ikut serta menghadang dan menanggulangi semua ancaman, hambatan, tantangan dan gangguan dar bahaya laten komunis di negeri tercinta ini. Karena hal tersebut adalah cerminan sikap generasi muda Indonesia dari Sabang sampai Merauke dari Mianggas sampai Pulau Rote. Marilah kita petik satu saja ungkapan Bung Karno dan kita tanamkan dalam sanubari masing-masing.

Ungkapan beliau adalah “JAS MERAH” Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”. Nyata sudah bahwa sejarah adalah bukti nyata yang harus kita telaah dan kita ambil hikmahnya. Bila kita mampu menelaah dan meresapi dengan baik sangat, maka mendalam ungkapan dari Bung Karno tersebut.

Hal ini menunjukkan betapa kokohnya negeri ini, betapa kuatnya cengkeraman Pancasila dan harga mati untuk NKRI. Sebagai generasi muda Indonesia, sangat pantas kita semayamkan sikap patriotisme dan nasionalisme di dada kita. ***

*) Rika Prasatya, Kontributor pada Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional (LPKN)


Bagikan ke:

Posting Terkait